Sudah tiga kali ini kamar terkunci dari dalam, dan ketiga-tiganya
membuat huru-hara sedemikian rupa. Pintu itu tidak bisa dibuka dari luar, anak
kuncinya entah hilang kemana. Karena lupa mencabut dari kenop pintu, akhirnya
anak kunci itu jadi bahan mainan si Aisyah, dan kejadian selanjutnya bisa
ditebak "tadi atu ambin, telus mmh.. Atu talok mana yaa.. Mmh.. ".
Kalau sudah begini, yang paling bagus adalah mengikhlaskannya, cari opsi jalan
keluar yang lain saja. Ini semua demi kesehatan mental kami-kami yang dewasa.
Introgasi lebih lanjut hanya akan membuat makan hati sendiri, gemas, emosi
jiwa, geregetan campur mengkal tak karuan.
Sepertinya ini problematika
umum keluarga dengan anggota salah satu atau salah duanya adalah balita -atau
mungkin hanya keluarga kami saja ya, hehe-
Yang
pertama, terjadi di suatu siang. Cuma ada saya, dan dua balita usil itu. Waktu
kejadian pertama ini saya masih punya kemauan keras untuk menemukan anak kunci
yang raib, fokus introgasi. Setelah beberapa lama usaha tanpa hasil, yasudahlah
akhirnya diikhlaskan saja. Cari jalan keluar lain, untungnya jendela kamar
waktu itu terbuka. Alhamdulillahi 'ala kullihal.. Aisyah bisa saya selipkan
masuk kamar lewat jendela. Beres!
Kejadian kedua, di suatu
maghrib. Sembari menunggu saya sholat maghrib di kamar belakang, saya minta
Aisy mengajak adiknya pindah ke kamar depan. Si kecil Shoviy hobby sekali
tengkurap di sajadah, blocking area sujud saya ketika saya sholat, walaupun
sebenernya dia sedang menirukan gerakan sujud saya, namun demi alasan
kekhusyuan saya mengusir mereka. Entah siapa yang menekan tombol lock di kenop
pintu kamar depan (biasanya sih cuma aisyah yang hobby pencet-pencet tombol
lock kenop pintu), akhirnya tanpa sadar pintupun sempurna terkunci sewaktu Aisy
menutupnya. Belum selesai saya sholat, terdengar suara Shoviy menangis sambil
memukul-mukul pintu. Belum melepas mukena, saya langsung meneriaki Aisyah
supaya membukakan pintu adiknya. Tidak ada jawaban. Buru-buru saya menuju kamar
depan, memutar kenop pintu, terkunci! Berkali-kali saya gedor-gedor pintu
sembari memanggil namanya juga tetap tidak ada sahutan dari dalam. Hanya
tangisan Shoviy yang belum berhenti. Penasaran, akhirnya saya tengok dari
jendela kaca yang mengarah ke car port di depan. Seharian keasyikan bermain,
tidak tidur siang dan sore dilanjut mengaji di TPQ rupanya membuat Aisy ngantuk
berat maghrib itu. Aisyah tidur pulas di kasur, dan adiknya berdiri di depan
pintu sambil menangis. Si sulung ini kalau sudah tertidur begini susah sekali
dibangunkannya. Pernah suatu ketika dia tertidur saat saya bonceng, cipratan
air es di jidat pun tidak berhasil membuat dia bangun. Istimewa sekali kan??!
Kembali ke kamar yang terkunci, tidak kehabisan akal, saya panggil
si kecil dari jendela. "Opi..opiii.. Sini, sini. itu kakak bobok, jambak
ya, tarik rambutnya gini yaa..iiiih.. " (Sambil memeragakan gerakan
menjambak rambut). Opi pun menurut, didatanginya si Aisyah, berguling ke atas
kasur tidur disamping kakaknya, lalu dengan sekencang-kencangnya menjambak
rambut yang disampingnya. Di detik ini Opi sudah mereda tangisnya, digantikan
Aisy yang terbangun dengan menjerit keras sekali. Saya hapal sekali dengan
kejahilan si kecil, seringkali kakaknya terbangun dengan menangis akibat dari
kejahilan Opi. Ketika dia bangun tidur dan melihat kakaknya masih tidur, alamat
tidak selamatlah si kakak, entah dinaiki, entah dijambak, atau sekedar
dicolok-colok kelopak matanya, atau apa sajalah asal kakaknya ikut bangun. Cara
ini sedikit sadis, saya akui, tapi bagaimanalah tidak ada cara lain yang lebih
jitu dari ini. Maafkan umi ya nak :)
Butuh beberapa menit
membujuk Aisy bangun, badmood campur kantuk berat komplit membuat dia tidak mau
bangkit dari kasur, walaupun matanya sudah terbuka. Dibujuk-bujuk hendak
ditinggal pergi jalan-jalan Umi-Abi pun tak berhasil. Cara sadis berikutnya
akhirnya digunakan, tanpa banyak bicara listrik saya padamkan dari meterannya.
Seketika berhamburlah dia keluar sambil menangis lebih kencang. Sekali lagi,
maaf yaa.. Terpaksa. Kalau terlalu lama negosiasi, takut kamu tertidur lagi :)
Ketiga
kalinya, malam ini. Pukul sembilan malam lewat. Hari ini kami bersiap tidur
lebih larut dari biasanya, ada undangan pengajian dan baru usai lepas pukul
delapan malam. Biasanya lepas pukul delapan rumah kami sudah sepi. Selepas saya
sholat isya, memanaskan lauk dan memberi makan anak-anak kucing, akhirnya suami
menggiring anak-anak -Aisy&Shoviy- ke kamar. Ternyata pintu kamar
Terkunci!! Tidak ada siapa-siapa di dalam, dan jendela kamar sudah dikunci dari
sore tadi. Suami langsung emosi. Jalan ke depan, jalan ke belakang, mencoba
memutar kenop lagi, jalan ke depan lagi,ke belakang lagi, ngomel lagi ke
Aisyah. Saya yang sedang memberi ASI Shoviy sambil berpikir juga ikut kena
marah. Apa salahnya kalau saya bisa tetap berpikir sambil kasih ASI, sambil
main game di tab?? Wanita itu multitasking bung!
Pernah dihadapkan kasus
seperti ini juga dulu, waktu di ibukota, di rumah kakak. Bedanya yang terkunci
waktu itu bukan kamar, tapi dapur dengan kompor menyala di dalamnya. Di rumah
tidak ada laki-laki, begitu juga di rumah tetangga, kejadiannya pass waktu
sholat jumat. Dan hanya saya yang punya postur tubuh yang muat dalam ventilasi
sebesar 100x30 cm itu, sekaligus yang beresiko kecil cidera jika harus lompat
bebas dari ketinggian 2,5 meter. Jadilah saya naik ke atas lubang ventilasi,
memanjat bufet, menjebol kasa nyamuk, naik ke atas dengan badan tertekuk-tekuk
dan lompat bebas dari ketinggian dua setengah meter. Yang susah bukan naiknya,
tapi memutar badan di atas dan selanjutnya lompat bebas dengan selamat.
Kembali
ke kamar yang terkunci, memikirkan kemungkinan untuk mengulang romantisme
kejadian lama itu. Berpikir kemungkinan-kemungkinan, dan akhirnya urung,
mengingat paku dan gantungan baju di belakang pintu. Alamak.. bukan hanya baju
yang bisa robek, bahkan "seragam pramuka" made in Ilahi Robbi juga
ini.
Kemungkinan
kedua, didodbrak paksa. Badan abi besar, pasti bisa. Tapi akhirnya urung juga,
bukan hanya pintu yang terbuka, kemungkinan kayu kusennya juga ikut jebol.
Rumah kontrakan ini sudah tinggi tingkat populasi rayapnya. Akhirnya abi yang
punya ide lain, memang benar ungkapan dua kepala lebih baik daripada satu kepala.
Asal tidak dua muka saja hehe jadi OOT. Idenya, mengait kunci selot jendela
dengan gembok yang terulur dengan tali. Lagi-lagi, secara teknis cuma saya yang
bisa. Tangan kecil saya bisa masuk ke lubang kecil diatas jendela untuk
mengayunkan bandul gembok. Ini seperti memancing boneka dari dalam box kaca,
bandul gembok berkali-kali menyerempet kaitan kunci selot, hanya menyerempet.
Pukul 10.15 malam akhirnya bandul gembok itu berhenti mem-PHP saya, sempurna
mengait, dalam sekali tarik kunci selot itu berhasil terangkat, dan jendelapun
terbuka. Seperti kejadian pertama dulu, giliran tugas Aisy masuk menyelip lewat
jendela kamar.
Sekedar pengingat buat
teman-teman yang mempunyai anak balita dan juga pintu dengan kenop bulat yang
ada tombol lock nya. Letakkan kunci cadangan di luar kamar yang letaknya mudah
diingat dan mudah dijangkau, tapi tidak dalam jangkauan anak-anak balita.
Selamat memetik hikmah :)
Sekali lagi,
Alhamdulillahi 'ala kullihal..