Selasa, 29 Desember 2015

Menjadi orang indonesia yang tidak kebule-bulean

Sometimes I checking all my newsfeed just for killing the time. yes! Aaalll the newsfeed. like now, after doing homework til over night, I found my sleepy-time already gone!! Just left 2 hours more to meet up with the sun And b/c of that, now I knew little shocking fact.. Many friends of mine wrote their status either reply the comments in english eventhough they didn't use that language in their daily activity. Just for rediculous reason, they want to be seen as smart people, fluently in english, and 'gaul' also.

But sorry to say, I have to call it 'kemlinggis'.

Actually it's not anyone problem, and so do I. but c'mon guys, even you're tourist guide or maybe english teacher, meet bule everyday, you shouldn't talk with local citizen or another teacher using english language right?

I think we should starting to proud more w/ our Bahasa. Stop using alay's one, seriously it's make me got haedache to read them.. Eeerrghh..

Kalau bisaaa..ini kalau bisa yaa., selepas bule-bule itu pulang ke kampung masing-masing, mereka sudah paham sedikit Bahasa kita. Bule 'nyetatus' di FB dengan Bahasa, waaah.. Bayangkan! Bisa-bisa Sebentar saja Bahasa Indonesia juga bisa jadi international language. Keren kan!!


                               Selamat menjalankan ibadah sholat subuh         

Mainan Made In China

--Made in china-- Ini mainan, bungkus kemasan dengan isinya kenapa tidak ada mirip-miripnya sama sekali ya tapi ya memang ada tulisan di bawah "SPECIFICATIONS , COLORS & CONTENTS MAY VARY FROM ILLUSTRATION". Tapi kenapa saya masih saja shock ketika tahu isinya beda dengan gambar kemasannya :D



pacman emotikon

Minggu, 13 Desember 2015

Sebuah Resensi Novel "PULANG": Perjalanan Panjang Kehidupan Memeluk Segala Luka

https://easternhousewife.blogspot.com/
DATA NOVEL:
Judul : Pulang
Penulis : Tere Liye
Editor : Triana Rahmawati
Penerbit : Republika
Tebal Buku : iv + 400 halaman
Kota Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : September 2015
Harga : Rp. 59.000 (http://tbodelisa.blogspot.com/) 


_______________

Tentang Penulis:

Novel ini ditulis oleh Tere Liye, nampaknya Tere Liye tidak ingin dirinya terlalu terkenal. Data-data tentang dirinya tidak banyak diketahui orang, hanya sebatas informasi lahir di tanggal 21 Mei 1979, punya sapaan Darwis, dan telah berkeluarga dengan dikaruniai seorang putra. Tere Liye sendiri hanya nama pena yang diambil dari bahasa India yang berarti Untuk-Mu. Walau tidak banyak yang diketahui orang tentang bang Darwis ini, hasil karya Tere Liye sudah banyak dikenal di masyarakat, total karya yang sudah terpublish ada 23 judul novel. Diantaranya yang sedang dan telah saya baca adalah Hafalan Sholat Delisha, Eliana, Ayahku (bukan) Seorang Pembohong, Sunset Bersama Rosie, Rindu, Kau Aku dan Sepucuk Angpau Merah, Bidadari-Bidadari Surga, dan Pulang. Hampir semua novelnya berpredikat best seller, bahkan beberapa sudah diangkat ke layar lebar. Pemilihan bahasa dan istilah yang mudah dicerna pembaca awam, serta alur cerita yang bergelombang laksana ombak lautan membuat pembaca betah berlama-lama bermesra ria bersama karya-karya Tere Liye.

_______________
Sinopsis Novel:

Pokok cerita dari novel ini berkisah tentang keluarga Tong sebagai pelaku Shadow Economy dengan puncak konflik pertikaian dengan keluarga shadow economy lain dari Macau serta pengkhianatan oleh anggota 'keluarga' sendiri. Kita mungkin lebih akrab dengan sebutan Dunia hitam. Penyelundupan, casino, uang lepas jangkar di pelabuhan, narkoba, jual-beli senjata ilegal, perdagangan situs-situs sejarah, bahkan penjualan organ manusia pun bisa dilakukan oleh pelaku shadow economy.

Tokoh utama adalah Bujang. Bujang anak Samad, seorang mantan tukang pukul, cucu dari perewa atau biasa disebut bandit. Sedang ibunya Midah, adalah cucu dari Tuanku Imam, seorang ulama syahid di kampung kelahiran mereka berdua. Di jaman penjajahan, Tuanku Imam mengajak para perewa bersatu mengusir penjajah, kenyataan itu yang akhirnya membuat dua kubu masyarakat yang beda tabiat itu hidup berdampingan, membuka kesempatan anak-cucu mereka bertemu satu sama lain.

Samad kecil sebenarnya sudah menghindari dunia yang digeluti ayahnya yang perewa, tiap haripun belajar agama pada Tuanku Imam. Namun kehidupannya jungkir balik 180 derajat ketika lamarannya kepada Midah ditolak mentah-mentah, alasannya karena dia  anak perewa. Selanjutnya Samad menghilang dari kampung, dan menjadi kepala tukang pukul Tauke di kota propinsi. Tauke adalah kepala keluarga Tong, dengan kekuasaan utamanya ada di pelabuhan kota propinsi. Selama 15 tahun dia mengabdi di sana, namun akhirnya dia meminta pensiun. Sebelumnya, keluaga Tong diserang, Samad sebagai kepala tukang pukul saat itu sudah mati-matian nekat menerobos api untuk menyelamatkan ayah Tauke. Namun takdir berkata lain, ayah-saudara-istri-dan anak Tauke hangus terbakar dalam tragedi itu, dan kaki Samad menjadi pincang. Setelah pensiun, Samad kembali ke kampung halaman, dan melamar Midah untuk kedua kalinya. Wali Midah merestui namun tidak dengan para tetua kampung. Hal ini membuat Samad dan Midah terusir dari kampung halaman setelah pernikahan mereka, dan tinggal di Talang, dalam rimba Sumatera. Cerita cinta Samad-Midah ini tercecer di beberapa bab, dari awal sampai akhir.

Samad diperkenankan pensiun dengan memberi janji kepada Tauke kalau kelak anaknya lelaki, maka anaknya akan kembali kepada Tauke. Maka di umur 15, Bujang akhirnya dijemput Tauke dari rumahnya di rimba Sumatera.

Tauke datang dengan "alibi" berburu babi hutan yang sudah merusak sawah-ladang penduduk di Talang. Sekali lagi, itu hanya alibi. Hal ini baru disibak di bab-bab akhir. Dalam perburuan itu Bujang menyelamatkan Tauke dari serangan babi hutan terbesar di ujung perburuan, sejak saat itu seakan satu dari lima emosi dasarnya sebagai manusia menghilang, dia tidak lagi mengenal rasa takut.

Singkat cerita Bujang pun akhirnya ikut Tauke ke kota propinsi. Selain karena ingin melihat dunia luar, dia tak ingin lagi melihat tangis mamaknya. Peristiwa pahit masa lalu dan kebencian terhadap Tuanku Imam dan para tetua kampung membuat Samad benci dengan segala yang berhubungan dengan Tuanku Imam. Bahkan ia akan memukul Bujang tanpa ampun setiap kali mendapati anaknya sedang belajar dengan mamaknya, terlebih jika pelajaran itu berhubungan ajaran Tuanku Imam. Tiap kali itu juga mamaknya hanya bisa menangis melihatnya.
Mamak Bujang sungguh tahu akan jadi apa anaknya di kota propinsi, sehingga ketika Bujang pergi ia pun tak sanggup melepasnya dengan lambaian tangan, dia hanya bisa tersungkur menangis diatas sajadah. Hanya satu pesan mamaknya untuk Bujang, jangan pernah minum tuak dan makan daging babi/anjing, agar kelak ketika sudah hitam seluruh hatinya, masih menyisakan titik putih yang akan memanggilnya kembali "PULANG".
http://www.republikapenerbit.com/

Jumat, 04 Desember 2015

Perbaiki Buku Mengaji Yang Rusak

Sebelum Dijahit










Tinggal 2 halaman lagi dah ganti buku, sebenarnya itungannya nanggung kalau 'reparasi' buku qiroati ini. Tapi mau gimana lagi, sudah benar2 tidak bisa ditolong hanya dg lakban.Kalau buku yg sebelumnya bisa tertolong dengan lakban luar-dalam plus disetrika tiap halamannya,yg ini harus diberi hard cover kardus bekas+dijahit, dan setelah ini masih harus disetrika tiap lembarnya & dilapis kertas kado sampulnya, untuk menghilangkan kesan ngeneeess  Buk-bukuuu.. Yg sabar yaa. InsyaAllah manfaat dunia-akhirat

Sesudah dijahit


Pintu Kamar Yang Terkunci


Sudah tiga kali ini kamar terkunci dari dalam, dan ketiga-tiganya membuat huru-hara sedemikian rupa. Pintu itu tidak bisa dibuka dari luar, anak kuncinya entah hilang kemana. Karena lupa mencabut dari kenop pintu, akhirnya anak kunci itu jadi bahan mainan si Aisyah, dan kejadian selanjutnya bisa ditebak "tadi atu ambin, telus mmh.. Atu talok mana yaa.. Mmh.. ". Kalau sudah begini, yang paling bagus adalah mengikhlaskannya, cari opsi jalan keluar yang lain saja. Ini semua demi kesehatan mental kami-kami yang dewasa. Introgasi lebih lanjut hanya akan membuat makan hati sendiri, gemas, emosi jiwa, geregetan campur mengkal tak karuan.
Sepertinya ini problematika umum keluarga dengan anggota salah satu atau salah duanya adalah balita -atau mungkin hanya keluarga kami saja ya, hehe-

Yang pertama, terjadi di suatu siang. Cuma ada saya, dan dua balita usil itu. Waktu kejadian pertama ini saya masih punya kemauan keras untuk menemukan anak kunci yang raib, fokus introgasi. Setelah beberapa lama usaha tanpa hasil, yasudahlah akhirnya diikhlaskan saja. Cari jalan keluar lain, untungnya jendela kamar waktu itu terbuka. Alhamdulillahi 'ala kullihal.. Aisyah bisa saya selipkan masuk kamar lewat jendela. Beres!

Kejadian kedua, di suatu maghrib. Sembari menunggu saya sholat maghrib di kamar belakang, saya minta Aisy mengajak adiknya pindah ke kamar depan. Si kecil Shoviy hobby sekali tengkurap di sajadah, blocking area sujud saya ketika saya sholat, walaupun sebenernya dia sedang menirukan gerakan sujud saya, namun demi alasan kekhusyuan saya mengusir mereka. Entah siapa yang menekan tombol lock di kenop pintu kamar depan (biasanya sih cuma aisyah yang hobby pencet-pencet tombol lock kenop pintu), akhirnya tanpa sadar pintupun sempurna terkunci sewaktu Aisy menutupnya. Belum selesai saya sholat, terdengar suara Shoviy menangis sambil memukul-mukul pintu. Belum melepas mukena, saya langsung meneriaki Aisyah supaya membukakan pintu adiknya. Tidak ada jawaban. Buru-buru saya menuju kamar depan, memutar kenop pintu, terkunci! Berkali-kali saya gedor-gedor pintu sembari memanggil namanya juga tetap tidak ada sahutan dari dalam. Hanya tangisan Shoviy yang belum berhenti. Penasaran, akhirnya saya tengok dari jendela kaca yang mengarah ke car port di depan. Seharian keasyikan bermain, tidak tidur siang dan sore dilanjut mengaji di TPQ rupanya membuat Aisy ngantuk berat maghrib itu. Aisyah tidur pulas di kasur, dan adiknya berdiri di depan pintu sambil menangis. Si sulung ini kalau sudah tertidur begini susah sekali dibangunkannya. Pernah suatu ketika dia tertidur saat saya bonceng, cipratan air es di jidat pun tidak berhasil membuat dia bangun. Istimewa sekali kan??!

Kembali ke kamar yang terkunci, tidak kehabisan akal, saya panggil si kecil dari jendela. "Opi..opiii.. Sini, sini. itu kakak bobok, jambak ya, tarik rambutnya gini yaa..iiiih.. " (Sambil memeragakan gerakan menjambak rambut). Opi pun menurut, didatanginya si Aisyah, berguling ke atas kasur tidur disamping kakaknya, lalu dengan sekencang-kencangnya menjambak rambut yang disampingnya. Di detik ini Opi sudah mereda tangisnya, digantikan Aisy yang terbangun dengan menjerit keras sekali. Saya hapal sekali dengan kejahilan si kecil, seringkali kakaknya terbangun dengan menangis akibat dari kejahilan Opi. Ketika dia bangun tidur dan melihat kakaknya masih tidur, alamat tidak selamatlah si kakak, entah dinaiki, entah dijambak, atau sekedar dicolok-colok kelopak matanya, atau apa sajalah asal kakaknya ikut bangun. Cara ini sedikit sadis, saya akui, tapi bagaimanalah tidak ada cara lain yang lebih jitu dari ini. Maafkan umi ya nak :)

Butuh beberapa menit membujuk Aisy bangun, badmood campur kantuk berat komplit membuat dia tidak mau bangkit dari kasur, walaupun matanya sudah terbuka. Dibujuk-bujuk hendak ditinggal pergi jalan-jalan Umi-Abi pun tak berhasil. Cara sadis berikutnya akhirnya digunakan, tanpa banyak bicara listrik saya padamkan dari meterannya. Seketika berhamburlah dia keluar sambil menangis lebih kencang. Sekali lagi, maaf yaa.. Terpaksa. Kalau terlalu lama negosiasi, takut kamu tertidur lagi :)

Ketiga kalinya, malam ini. Pukul sembilan malam lewat. Hari ini kami bersiap tidur lebih larut dari biasanya, ada undangan pengajian dan baru usai lepas pukul delapan malam. Biasanya lepas pukul delapan rumah kami sudah sepi. Selepas saya sholat isya, memanaskan lauk dan memberi makan anak-anak kucing, akhirnya suami menggiring anak-anak -Aisy&Shoviy- ke kamar. Ternyata pintu kamar Terkunci!! Tidak ada siapa-siapa di dalam, dan jendela kamar sudah dikunci dari sore tadi. Suami langsung emosi. Jalan ke depan, jalan ke belakang, mencoba memutar kenop lagi, jalan ke depan lagi,ke belakang lagi, ngomel lagi ke Aisyah. Saya yang sedang memberi ASI Shoviy sambil berpikir juga ikut kena marah. Apa salahnya kalau saya bisa tetap berpikir sambil kasih ASI, sambil main game di tab?? Wanita itu multitasking bung!

Pernah dihadapkan kasus seperti ini juga dulu, waktu di ibukota, di rumah kakak. Bedanya yang terkunci waktu itu bukan kamar, tapi dapur dengan kompor menyala di dalamnya. Di rumah tidak ada laki-laki, begitu juga di rumah tetangga, kejadiannya pass waktu sholat jumat. Dan hanya saya yang punya postur tubuh yang muat dalam ventilasi sebesar 100x30 cm itu, sekaligus yang beresiko kecil cidera jika harus lompat bebas dari ketinggian 2,5 meter. Jadilah saya naik ke atas lubang ventilasi, memanjat bufet, menjebol kasa nyamuk, naik ke atas dengan badan tertekuk-tekuk dan lompat bebas dari ketinggian dua setengah meter. Yang susah bukan naiknya, tapi memutar badan di atas dan selanjutnya lompat bebas dengan selamat.

Kembali ke kamar yang terkunci, memikirkan kemungkinan untuk mengulang romantisme kejadian lama itu. Berpikir kemungkinan-kemungkinan, dan akhirnya urung, mengingat paku dan gantungan baju di belakang pintu. Alamak.. bukan hanya baju yang bisa robek, bahkan "seragam pramuka" made in Ilahi Robbi juga ini.

Kemungkinan kedua, didodbrak paksa. Badan abi besar, pasti bisa. Tapi akhirnya urung juga, bukan hanya pintu yang terbuka, kemungkinan kayu kusennya juga ikut jebol. Rumah kontrakan ini sudah tinggi tingkat populasi rayapnya. Akhirnya abi yang punya ide lain, memang benar ungkapan dua kepala lebih baik daripada satu kepala. Asal tidak dua muka saja hehe jadi OOT. Idenya, mengait kunci selot jendela dengan gembok yang terulur dengan tali. Lagi-lagi, secara teknis cuma saya yang bisa. Tangan kecil saya bisa masuk ke lubang kecil diatas jendela untuk mengayunkan bandul gembok. Ini seperti memancing boneka dari dalam box kaca, bandul gembok berkali-kali menyerempet kaitan kunci selot, hanya menyerempet. Pukul 10.15 malam akhirnya bandul gembok itu berhenti mem-PHP saya, sempurna mengait, dalam sekali tarik kunci selot itu berhasil terangkat, dan jendelapun terbuka. Seperti kejadian pertama dulu, giliran tugas Aisy masuk menyelip lewat jendela kamar.

Sekedar pengingat buat teman-teman yang mempunyai anak balita dan juga pintu dengan kenop bulat yang ada tombol lock nya. Letakkan kunci cadangan di luar kamar yang letaknya mudah diingat dan mudah dijangkau, tapi tidak dalam jangkauan anak-anak balita. Selamat memetik hikmah :)

Sekali lagi, Alhamdulillahi 'ala kullihal..