Jumat, 04 Desember 2015

Pintu Kamar Yang Terkunci


Sudah tiga kali ini kamar terkunci dari dalam, dan ketiga-tiganya membuat huru-hara sedemikian rupa. Pintu itu tidak bisa dibuka dari luar, anak kuncinya entah hilang kemana. Karena lupa mencabut dari kenop pintu, akhirnya anak kunci itu jadi bahan mainan si Aisyah, dan kejadian selanjutnya bisa ditebak "tadi atu ambin, telus mmh.. Atu talok mana yaa.. Mmh.. ". Kalau sudah begini, yang paling bagus adalah mengikhlaskannya, cari opsi jalan keluar yang lain saja. Ini semua demi kesehatan mental kami-kami yang dewasa. Introgasi lebih lanjut hanya akan membuat makan hati sendiri, gemas, emosi jiwa, geregetan campur mengkal tak karuan.
Sepertinya ini problematika umum keluarga dengan anggota salah satu atau salah duanya adalah balita -atau mungkin hanya keluarga kami saja ya, hehe-

Yang pertama, terjadi di suatu siang. Cuma ada saya, dan dua balita usil itu. Waktu kejadian pertama ini saya masih punya kemauan keras untuk menemukan anak kunci yang raib, fokus introgasi. Setelah beberapa lama usaha tanpa hasil, yasudahlah akhirnya diikhlaskan saja. Cari jalan keluar lain, untungnya jendela kamar waktu itu terbuka. Alhamdulillahi 'ala kullihal.. Aisyah bisa saya selipkan masuk kamar lewat jendela. Beres!

Kejadian kedua, di suatu maghrib. Sembari menunggu saya sholat maghrib di kamar belakang, saya minta Aisy mengajak adiknya pindah ke kamar depan. Si kecil Shoviy hobby sekali tengkurap di sajadah, blocking area sujud saya ketika saya sholat, walaupun sebenernya dia sedang menirukan gerakan sujud saya, namun demi alasan kekhusyuan saya mengusir mereka. Entah siapa yang menekan tombol lock di kenop pintu kamar depan (biasanya sih cuma aisyah yang hobby pencet-pencet tombol lock kenop pintu), akhirnya tanpa sadar pintupun sempurna terkunci sewaktu Aisy menutupnya. Belum selesai saya sholat, terdengar suara Shoviy menangis sambil memukul-mukul pintu. Belum melepas mukena, saya langsung meneriaki Aisyah supaya membukakan pintu adiknya. Tidak ada jawaban. Buru-buru saya menuju kamar depan, memutar kenop pintu, terkunci! Berkali-kali saya gedor-gedor pintu sembari memanggil namanya juga tetap tidak ada sahutan dari dalam. Hanya tangisan Shoviy yang belum berhenti. Penasaran, akhirnya saya tengok dari jendela kaca yang mengarah ke car port di depan. Seharian keasyikan bermain, tidak tidur siang dan sore dilanjut mengaji di TPQ rupanya membuat Aisy ngantuk berat maghrib itu. Aisyah tidur pulas di kasur, dan adiknya berdiri di depan pintu sambil menangis. Si sulung ini kalau sudah tertidur begini susah sekali dibangunkannya. Pernah suatu ketika dia tertidur saat saya bonceng, cipratan air es di jidat pun tidak berhasil membuat dia bangun. Istimewa sekali kan??!

Kembali ke kamar yang terkunci, tidak kehabisan akal, saya panggil si kecil dari jendela. "Opi..opiii.. Sini, sini. itu kakak bobok, jambak ya, tarik rambutnya gini yaa..iiiih.. " (Sambil memeragakan gerakan menjambak rambut). Opi pun menurut, didatanginya si Aisyah, berguling ke atas kasur tidur disamping kakaknya, lalu dengan sekencang-kencangnya menjambak rambut yang disampingnya. Di detik ini Opi sudah mereda tangisnya, digantikan Aisy yang terbangun dengan menjerit keras sekali. Saya hapal sekali dengan kejahilan si kecil, seringkali kakaknya terbangun dengan menangis akibat dari kejahilan Opi. Ketika dia bangun tidur dan melihat kakaknya masih tidur, alamat tidak selamatlah si kakak, entah dinaiki, entah dijambak, atau sekedar dicolok-colok kelopak matanya, atau apa sajalah asal kakaknya ikut bangun. Cara ini sedikit sadis, saya akui, tapi bagaimanalah tidak ada cara lain yang lebih jitu dari ini. Maafkan umi ya nak :)

Butuh beberapa menit membujuk Aisy bangun, badmood campur kantuk berat komplit membuat dia tidak mau bangkit dari kasur, walaupun matanya sudah terbuka. Dibujuk-bujuk hendak ditinggal pergi jalan-jalan Umi-Abi pun tak berhasil. Cara sadis berikutnya akhirnya digunakan, tanpa banyak bicara listrik saya padamkan dari meterannya. Seketika berhamburlah dia keluar sambil menangis lebih kencang. Sekali lagi, maaf yaa.. Terpaksa. Kalau terlalu lama negosiasi, takut kamu tertidur lagi :)

Ketiga kalinya, malam ini. Pukul sembilan malam lewat. Hari ini kami bersiap tidur lebih larut dari biasanya, ada undangan pengajian dan baru usai lepas pukul delapan malam. Biasanya lepas pukul delapan rumah kami sudah sepi. Selepas saya sholat isya, memanaskan lauk dan memberi makan anak-anak kucing, akhirnya suami menggiring anak-anak -Aisy&Shoviy- ke kamar. Ternyata pintu kamar Terkunci!! Tidak ada siapa-siapa di dalam, dan jendela kamar sudah dikunci dari sore tadi. Suami langsung emosi. Jalan ke depan, jalan ke belakang, mencoba memutar kenop lagi, jalan ke depan lagi,ke belakang lagi, ngomel lagi ke Aisyah. Saya yang sedang memberi ASI Shoviy sambil berpikir juga ikut kena marah. Apa salahnya kalau saya bisa tetap berpikir sambil kasih ASI, sambil main game di tab?? Wanita itu multitasking bung!

Pernah dihadapkan kasus seperti ini juga dulu, waktu di ibukota, di rumah kakak. Bedanya yang terkunci waktu itu bukan kamar, tapi dapur dengan kompor menyala di dalamnya. Di rumah tidak ada laki-laki, begitu juga di rumah tetangga, kejadiannya pass waktu sholat jumat. Dan hanya saya yang punya postur tubuh yang muat dalam ventilasi sebesar 100x30 cm itu, sekaligus yang beresiko kecil cidera jika harus lompat bebas dari ketinggian 2,5 meter. Jadilah saya naik ke atas lubang ventilasi, memanjat bufet, menjebol kasa nyamuk, naik ke atas dengan badan tertekuk-tekuk dan lompat bebas dari ketinggian dua setengah meter. Yang susah bukan naiknya, tapi memutar badan di atas dan selanjutnya lompat bebas dengan selamat.

Kembali ke kamar yang terkunci, memikirkan kemungkinan untuk mengulang romantisme kejadian lama itu. Berpikir kemungkinan-kemungkinan, dan akhirnya urung, mengingat paku dan gantungan baju di belakang pintu. Alamak.. bukan hanya baju yang bisa robek, bahkan "seragam pramuka" made in Ilahi Robbi juga ini.

Kemungkinan kedua, didodbrak paksa. Badan abi besar, pasti bisa. Tapi akhirnya urung juga, bukan hanya pintu yang terbuka, kemungkinan kayu kusennya juga ikut jebol. Rumah kontrakan ini sudah tinggi tingkat populasi rayapnya. Akhirnya abi yang punya ide lain, memang benar ungkapan dua kepala lebih baik daripada satu kepala. Asal tidak dua muka saja hehe jadi OOT. Idenya, mengait kunci selot jendela dengan gembok yang terulur dengan tali. Lagi-lagi, secara teknis cuma saya yang bisa. Tangan kecil saya bisa masuk ke lubang kecil diatas jendela untuk mengayunkan bandul gembok. Ini seperti memancing boneka dari dalam box kaca, bandul gembok berkali-kali menyerempet kaitan kunci selot, hanya menyerempet. Pukul 10.15 malam akhirnya bandul gembok itu berhenti mem-PHP saya, sempurna mengait, dalam sekali tarik kunci selot itu berhasil terangkat, dan jendelapun terbuka. Seperti kejadian pertama dulu, giliran tugas Aisy masuk menyelip lewat jendela kamar.

Sekedar pengingat buat teman-teman yang mempunyai anak balita dan juga pintu dengan kenop bulat yang ada tombol lock nya. Letakkan kunci cadangan di luar kamar yang letaknya mudah diingat dan mudah dijangkau, tapi tidak dalam jangkauan anak-anak balita. Selamat memetik hikmah :)

Sekali lagi, Alhamdulillahi 'ala kullihal..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar