Minggu, 13 Desember 2015

Sebuah Resensi Novel "PULANG": Perjalanan Panjang Kehidupan Memeluk Segala Luka

https://easternhousewife.blogspot.com/
DATA NOVEL:
Judul : Pulang
Penulis : Tere Liye
Editor : Triana Rahmawati
Penerbit : Republika
Tebal Buku : iv + 400 halaman
Kota Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : September 2015
Harga : Rp. 59.000 (http://tbodelisa.blogspot.com/) 


_______________

Tentang Penulis:

Novel ini ditulis oleh Tere Liye, nampaknya Tere Liye tidak ingin dirinya terlalu terkenal. Data-data tentang dirinya tidak banyak diketahui orang, hanya sebatas informasi lahir di tanggal 21 Mei 1979, punya sapaan Darwis, dan telah berkeluarga dengan dikaruniai seorang putra. Tere Liye sendiri hanya nama pena yang diambil dari bahasa India yang berarti Untuk-Mu. Walau tidak banyak yang diketahui orang tentang bang Darwis ini, hasil karya Tere Liye sudah banyak dikenal di masyarakat, total karya yang sudah terpublish ada 23 judul novel. Diantaranya yang sedang dan telah saya baca adalah Hafalan Sholat Delisha, Eliana, Ayahku (bukan) Seorang Pembohong, Sunset Bersama Rosie, Rindu, Kau Aku dan Sepucuk Angpau Merah, Bidadari-Bidadari Surga, dan Pulang. Hampir semua novelnya berpredikat best seller, bahkan beberapa sudah diangkat ke layar lebar. Pemilihan bahasa dan istilah yang mudah dicerna pembaca awam, serta alur cerita yang bergelombang laksana ombak lautan membuat pembaca betah berlama-lama bermesra ria bersama karya-karya Tere Liye.

_______________
Sinopsis Novel:

Pokok cerita dari novel ini berkisah tentang keluarga Tong sebagai pelaku Shadow Economy dengan puncak konflik pertikaian dengan keluarga shadow economy lain dari Macau serta pengkhianatan oleh anggota 'keluarga' sendiri. Kita mungkin lebih akrab dengan sebutan Dunia hitam. Penyelundupan, casino, uang lepas jangkar di pelabuhan, narkoba, jual-beli senjata ilegal, perdagangan situs-situs sejarah, bahkan penjualan organ manusia pun bisa dilakukan oleh pelaku shadow economy.

Tokoh utama adalah Bujang. Bujang anak Samad, seorang mantan tukang pukul, cucu dari perewa atau biasa disebut bandit. Sedang ibunya Midah, adalah cucu dari Tuanku Imam, seorang ulama syahid di kampung kelahiran mereka berdua. Di jaman penjajahan, Tuanku Imam mengajak para perewa bersatu mengusir penjajah, kenyataan itu yang akhirnya membuat dua kubu masyarakat yang beda tabiat itu hidup berdampingan, membuka kesempatan anak-cucu mereka bertemu satu sama lain.

Samad kecil sebenarnya sudah menghindari dunia yang digeluti ayahnya yang perewa, tiap haripun belajar agama pada Tuanku Imam. Namun kehidupannya jungkir balik 180 derajat ketika lamarannya kepada Midah ditolak mentah-mentah, alasannya karena dia  anak perewa. Selanjutnya Samad menghilang dari kampung, dan menjadi kepala tukang pukul Tauke di kota propinsi. Tauke adalah kepala keluarga Tong, dengan kekuasaan utamanya ada di pelabuhan kota propinsi. Selama 15 tahun dia mengabdi di sana, namun akhirnya dia meminta pensiun. Sebelumnya, keluaga Tong diserang, Samad sebagai kepala tukang pukul saat itu sudah mati-matian nekat menerobos api untuk menyelamatkan ayah Tauke. Namun takdir berkata lain, ayah-saudara-istri-dan anak Tauke hangus terbakar dalam tragedi itu, dan kaki Samad menjadi pincang. Setelah pensiun, Samad kembali ke kampung halaman, dan melamar Midah untuk kedua kalinya. Wali Midah merestui namun tidak dengan para tetua kampung. Hal ini membuat Samad dan Midah terusir dari kampung halaman setelah pernikahan mereka, dan tinggal di Talang, dalam rimba Sumatera. Cerita cinta Samad-Midah ini tercecer di beberapa bab, dari awal sampai akhir.

Samad diperkenankan pensiun dengan memberi janji kepada Tauke kalau kelak anaknya lelaki, maka anaknya akan kembali kepada Tauke. Maka di umur 15, Bujang akhirnya dijemput Tauke dari rumahnya di rimba Sumatera.

Tauke datang dengan "alibi" berburu babi hutan yang sudah merusak sawah-ladang penduduk di Talang. Sekali lagi, itu hanya alibi. Hal ini baru disibak di bab-bab akhir. Dalam perburuan itu Bujang menyelamatkan Tauke dari serangan babi hutan terbesar di ujung perburuan, sejak saat itu seakan satu dari lima emosi dasarnya sebagai manusia menghilang, dia tidak lagi mengenal rasa takut.

Singkat cerita Bujang pun akhirnya ikut Tauke ke kota propinsi. Selain karena ingin melihat dunia luar, dia tak ingin lagi melihat tangis mamaknya. Peristiwa pahit masa lalu dan kebencian terhadap Tuanku Imam dan para tetua kampung membuat Samad benci dengan segala yang berhubungan dengan Tuanku Imam. Bahkan ia akan memukul Bujang tanpa ampun setiap kali mendapati anaknya sedang belajar dengan mamaknya, terlebih jika pelajaran itu berhubungan ajaran Tuanku Imam. Tiap kali itu juga mamaknya hanya bisa menangis melihatnya.
Mamak Bujang sungguh tahu akan jadi apa anaknya di kota propinsi, sehingga ketika Bujang pergi ia pun tak sanggup melepasnya dengan lambaian tangan, dia hanya bisa tersungkur menangis diatas sajadah. Hanya satu pesan mamaknya untuk Bujang, jangan pernah minum tuak dan makan daging babi/anjing, agar kelak ketika sudah hitam seluruh hatinya, masih menyisakan titik putih yang akan memanggilnya kembali "PULANG".
http://www.republikapenerbit.com/
Bujang rupanya adalah anak genius. Tauke menyerahkannya urusan pendidikan formal Bujang kepada Frans, seorang Amerika. Kelak Bujang tidak hanya lulus sarjana lebih cepat dari siapapun, tapi juga bisa mengambil dua gelar Master sekaligus selama tiga tahun berada di luar negeri. Dengan otak genius Bujang, Tauke punya visi besar untuk keluarga Tong ke depan. Meski demikian, Bujang masih berkemauan keras menjadi tukang pukul seperti ayahnya dulu. Negosiasi dengan Tauke berjalan alot, sampai pada akhirnya Bujang harus mengikuti tradisi "Amok", tradisi keluarga Tong dalam menentukan kepala tukang pukul. Pertarungan bebas, tangan kosong, Bujang VS semua tukang pukul. Bila bisa bertahan 20 menit Bujang boleh berhenti belajar. Hasilnya dia hanya mampu 19 menit bertahan, keputusan final.. Bujang tetap harus sekolah!

Berkat gagasan Kopong, sang kepala tukang pukul, demi tak menyia-nyiakan kemampuan fisik dan ketiadaan rasa takut dalam dirinya, Bujang diberikan pelatihan fisik juga di malam hari. Guru pertama adalah Kopong sendiri, latihannya? Lari dan tinju. Dengan kemampuannya ini bahkan kelak dia akan mengalahkan juara olimpiade lari jarak pendek 3-0.
Guru kedua Bujang adalah guru Bushi, seorang samurai dan ninja dari Jepang.

Seiring berjalannya waktu, dalam dua tahun pendidikan formal Bujang sudah setara dengan lulusan kelas tiga sekolah menengah, diterima di universitas terbaik di ibukota negara, dan kekuasaan keluarga Tong pun sudah semakin besar, akhirnya Tauke memutuskan pindah, ekspansi ke ibukota negara. Sedikit demi sedikit menginvestasikan aliran dana dari bisnis-bisnis ilegal itu ke dalam bisnis legal. Pencucian uang.

Sebelumnya, Bujang tidak pernah diperbolehkan mengikuti misi tukang pukul oleh Tauke. Namun akhirnya takdir itu sendiri yang datang ke hadapan Bujang. Sehari sebelum keluaga besar Tong pindah ke ibukota negara, markas besar Tauke diserang keluarga lain, seluruh tukang pukul sedang di luar, mengejar petunjuk palsu serangan pancingan sebelumnya. Seorang diri Bujang berhasil mengahabisi enam orang tukang pukul terakhir dengan pedang. Sejak saat itu Tauke memperbolehkan Bujang ikut dalam misi-misi tukang pukul berikutnya. Ada Basyir, tukang pukul sebayanya yang berdarah Arab, bersama Kopong dan tukang pukul yang lain, mereka bahu membahu dalan setiap misi. Siang sebagai mahasiswa dan malam sebagai tukang pukul, tak sekalipun dia melanggar pesan mamaknya. Bahkan sampai kelak ketika dia sudah menjabat sebagai penyelesai konflik tingkat tinggi keluarga Tong.

Bujang mendapat guru fisiknya yang ketiga. Seorang pembunuh bayaran nomer satu asal Philipina, Salonga namanya, guru menembak yang hobi sekali meneriaki Bujang "Bodoh". "Karena kau yang harus memahami pistolmu, Bodoh, bukan benda mati yang memahamimu" (novel PULANG, hal. 178).
Dengan Salonga, Bujang tahu bagaimana cara memasukkan timah panas kedalam kaleng, tanpa 'bablas' menembus keluar. Teknik lainnya, memecahkan beberapa botol kaca dengan dua peluru saja. Selengkapnya bisa Anda baca sendiri dalam novel ini.

Puncak konflik di novel ini adalah pertikaian antara keluarga Tong dan keluarga Lin, dari Macau. Keluarga Lin telah mencuri sesuatu yang sangat berharga milik keluaga Tong. Dan demi merebutnya kembali, seorang diri Bujang harus membunuh kepala keluarga Lin, di ruang meditasinya sendiri, dan di bawah pandangan anggota keluarga Lin yang lain. Aksi melarikan diri dari markas keluarga Lin berjalan menegangkan.

Estafet, belum selesai konflik dengan keluarga Lin, konflik lain sudah menunggu Bujang di markas besar keluarga Tong. Pengkhianatan keluarga sendiri. Disusul dengan kematian Tauke, membuat rasa takutnya kembali, menambah besar konflik batinnya sendiri. Konflik yang lebih mendalam dari segala konflik yang ada. Bujang selalu dihantui oleh kenangan pahit masa kecilnya, bapaknya yang keras, dan mamaknya yang kerap menangis. Setiap mendengar suara adzan kenangan itu seakan tak bosan menyiksanya.
Novel ini berakhir bahagia, semua konflik yang ada terselesaikan dengan tuntas. Bagaimana Bujang bisa menyelesaikan semuanya, proses apa saja yang harus dia lalui, Tere Liye berhasil memaparkan proses rumit itu dengan bahasa yang ringkas.
_______________

Meski judul novel ini adalah 'Pulang' namun tidak sekalipun diceritakan Bujang pulang menemui Bapak-Mamaknya sejak dijemput oleh Tauke, kecuali hanya sekali, di akhir bab, Bujang pulang ke Talang untuk ziarah ke makan mamak-bapaknya. Kematian mamak-bapak Bujang silih berganti menyelingi kebahagiaan yang datang. Sepanjang hari mendapat kegembiraan yang tumpah ruah, dan dini hari berikutnya hatinya sesak menahan duka. Seperti habis diangkat tinggi-tinggi ke atas langit, kemudian terjun bebas ke dalam jurang terdalam. Namun demikian Bujang tidak juga berniat pulang ke kampung halaman.
Letak pulang dalam novel ini bukan hanya bermakna harfiyah kembali ke kampung halaman, namun lebih kepada makna batiniyah. Memeluk semua kenangan pahit, berdamai dengan ingatan akan masa-masa menyakitkan di masa lalu, ikhlas menerima sebagai suatu suratan takdir, dan memperoleh kedamaian jiwa.


Arti 'pulang' disini pada awalnya saya membayangkan di akhir cerita Bujang akan kembali kepada ajaran mamaknya, kembali kepada kebaikan, atau mungkin bahkan pindah ke Talang lagi, mengawali hidup baru dan melepas segala hal yang berhubungan denga dunia hitam (shadow economy). Sesuai dengan cover buku yang bergambar sunrise, melambangkan awal hari yang baru, tempat digantungkan banyak harapan. Ternyata tidak, anggapan saya meleset. Namun saya yakin anggapan saya tidak sepenuhnya salah. Walau secara eksplisit Bujang tetap menjadi bagian keluarga Tong setelah berhasil melalui semua masalah, namun saya menebak-nebak mungkin tidak serta merta dia meninggalkan bisnis ilegal keluarga Tong, mungkin perlahan akan membawanya ke arah menuju kebaikan. Memutar arah dan halauan. Visi misi yang baru.

Bahasa yang lugas, mudah dicerna namun tidak juga membosankan, serta alur maju-mundur seperti beberapa novel Tere Liye yang sudah-sudah membuat novel ini sukses menyihir pembaca. Pembaca tidak akan mudah berpaling dari buku, dari bab ke bab selalu menyisakan rasa penasaran.

Tere Liye sungguh piawai dalam memunculkan ketegangan suasana dalam tulisannya. Dalam pertempuran melawan pengkhianat, silahkan Anda bayangkan sendiri bagaimana pertempuran yang terjadi, jika itu dilakukan oleh tukang pukul yang dibantu oleh dua ninja wanita centil berbando helo kitty, ditambah mantan pasukan elite militer US (dengan roket yang sempat salah sasaran tembak) dan pasukan berpistol yang datang terlambat. Jujur, saya membaca bab ini dengan tergemas-gemas.

Bagi Anda yang sudah mengoleksi dan membaca beberapa novel Tere Liye yang lain,  mungkin Anda akan menemukan beberapa nilai-nilai penting yang hampir sama dengan yang ada di novel-novel tersebut. Mungkin saya bisa mengatakan bahwa hal ini menjadi ciri khas gaya penulisan novel Tere Liye sendiri. Tentang bagaimana memeluk semua kenangan pahit, memaafkan semuanya dan keikhlasan hati untuk menerima itu semua sebagai bagian dari kisah hidup. Memeluk, berdamai, bukan mati-matian membenci dan berusaha melupakan. Kenangan pahit itu hanyalah masa lalu, jangan pernah biarkan itu menghambat kita untuk terus maju. Begitulah setidaknya nilai yang bisa ditangkap.

Untuk Anda yang susah move on, terjebak dalam kenangan buruk masa lalu yang menyesakkan dada, dan selalu diselimuti kebencian yang semakin besar dan besar, novel ini bisa menjadi rujukan bahan kontemplasi diri. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang tidak pernah diuji mengalami kepahitan dan luka batin. Beberapa ada yang bisa sembuh satu-dua hari, namun ada ribuan lain yang harus melalui belasan bahkan puluhan tahun untuk benar-benar terlepas dari kenangan itu. Namun diatas semuanya hanya diri kita sendirilah yang bisa melepaskannya, bukan orang lain.

Satu lagi pelajaran yang bisa saya petik dari cerita kehidupan Samad. Dari kecil belajar agama, umur 20an melamar seorang wanita, anak gurunya sendiri, tapi ditolak mentah-mentah walinya. Alasannya karena dia anak perewa, bandit. Judgement yang tidak adil. Akibatnya, samad menghancurkan masa depannya dan membenci ajaran agama sampai akhir hayatnya.
Hati-hati dengan keputusan Anda, terlebih lagi dengan kata-kata Anda. Ada kalanya hati seseorang akan remuk bahkan seseorang akan menghancurkan hidupnya sendiri demi mendengar omongan orang lain.
Banyak kasus, ada pemuda yang memutuskan bunuh diri lantaran cintanya ditolak sang pujaan hati. Ada anak yang kehilangan semangat belajar dan putus sekolah lantaran mendengar orang tuanya bertengkar meributkan uang SPP. Ada mantan PSK yang kembali ke dunia gelapnya lantaran cemoohan tetangga. Macam-macam.

Tidak semua orang punya semangat maju terus pantang mundur, kawan! Ada kalanya orang terlihat kuat dan kokoh, tapi sekali kena pukulan, remuk dia, seperti beton tanpa tulangan. Seruan kata "Cemumut eaa!!" hanyalah sekedar susunan alphabet belaka. Tanpa makna. 


By: Farichah

20 komentar:

  1. Resensi buku yang bagus dan lugas. Bisa memberikan gambaran cerita mulai dari awal cerita dengan runtut. Thanks mbak icha

    BalasHapus
  2. Sebenarnya gak terlalu suka novel, tapi baca resensinya kayaknya menarik buku ini.

    BalasHapus
  3. dari resensi nya kayaknya nih novel oke juga. ane tipikal orang yang gak suka baca, apalagi baca novel. tapi pas baca ini jadi penasaran pengen baca novelnya. Matur tengkyu ya mbak resensinya ^_^
    #SalamKenal

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal juga mbak nurul.

      hehe saya juga dulu gak suka novel.. padahal di kampus ikut persma, sampai-sampai punya nama pena 'penulis yang tak pernah baca novel' :D
      sekarang sudah tau serunya baca novel, jadi nagih hehe

      Hapus
  4. Saya salah satu penggemar tulisan Tere Liye, dari resensi yang saya baca kelihatannya cukup seru. Two thumbs up untuk referensinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak disini :)

      Hapus
  5. Crunchy resensi,can't wait to read the whole book

    Ade

    BalasHapus
    Balasan
    1. tengkiyu juga untuk mampir disini.. semoga gak dehidrasi baca yg crunchy2 n panjang begini xixixi

      Hapus
  6. Wah ini bisa jadi film laga, drama, dan sedikit komedi di dalamnya hehe..
    Minimal dibagi 2 episode deh, supaya detilnya bisa banyak digali.

    Semoga ada sutradara yang lihat resensimu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. gak sekalian trilogi aja Dit? per bagian menceritakan flashback masa belajar Bujang dengan masing-masing guru.

      Amiin..
      thanks yak pak

      Hapus
  7. Hmmmm sepertinya menarik dan seru sekali ceritanya... jadi pengen baca novelnya secara keseluruhan.. :) kalau bisa ada filmnya kayaknya juga bolehhh... resensinya singkat padat menarik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. waaah.. baru ini dapat dapat pujian singkat, terima kasih terima kasih.. saya artikan bebas "resensi ini menarik dan tidak membosankan untuk dibaca", boleh yaaa? ;)

      terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak disini

      Hapus
  8. Wuihhh menarik sekali ulasannya....berasa penasaran apakah cerita seheboh ulasannya 😄...semoga deh hehhe

    BalasHapus
    Balasan
    1. harus baca mas yadiiii.. yang novel asli nya lebih banyak cerita seru nya.

      Hapus
  9. gak terlalu suka sm Novel sih. Tapiii Resensina kereeeeen.. Suka bangeeed ;*

    BalasHapus
  10. Kereen mba ichaa..maapp bru bs komen..hehehe..makasii..lunaass janjinya..hehehehe..sukaa deeh..makasii yaa..salam buat aisy sama opii *wuri*

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaaa. makasih mbak wuri..
      lunas yaaa...

      kalo salam ama aisy n opi biasanya pake sogokan mbak biar mereka mau bales xixixi

      Hapus