Habbats Oil ??! Apa Hebatnya Coba?? (Sebuah Testimoni)
29 Agustus 2014 pukul
10:53
Perkenalan pertama saya
dengan Habbatussauda Oil (minyak jintan hitam) adalah pada waktu menjelang
persalinan anak ke-2 saya, Shoviyah Shine Saputro, April 2014 lalu. Waktu itu
bidan pendamping saya merekomendasikan untuk menyiapkan Habbats oil, olive oil
(virgin) ,madu dan kurma/nabeez (juss kurma) untuk persiapan home birthing si
dedek di rumah.
Sempat bingung, untuk apa habbats oilnya? Kalau olive oil untuk
pijat membantu untuk relax, kurma untuk induksi alami sekaligus sumber energi,
demikian juga madu. Setahu saya habbat biasanya untuk menjaga kondisi tubuh
seperti suplemen vitamin, dan itu pun berupa kapsul untuk diminum. Tapi ya
sudahlah saya nurut saja..
Dan penasaran saya terjawab setelah proses kelahiran si kecil telah
usai, tepatnya setelah selesai proses jahitan. Rupanya habbats oil digunakan
sebagai pengganti obat merah/anti septic. Benar saja, butuh waktu seminggu
saja, saya sudah bisa leluasa jalan atau duduk di bawah atau di kursi empuk.
Dan tanpa minum obat apapun kecuali habbats kapsul, bahkan suntik vitamin K pun
tidak. Alhamdulillah sungguh-sungguh Alhamdulillah.. karena setelah seminggu
itu saya harus menjadi ibu rumah tangga tanpa asisten lagi. Di seminggu pertama
masih ada ibu mertua yang sengaja datang dari Boyolali untuk menemani.
Kesempatan kedua saya membuktikan kehebatan habbats oil adalah di
bulan Ramadhan kemarin. Masuk dalam 10 hari terakhir saya mengalami flu
berat+radang. Selepas Dzuhur terpaksa saya batalkan puasa karena harus minum
madu untuk mengurangi rasa sakit di tenggorokan, suami khawatir kalau
dipaksakan puasa malah semakin parah dan semakin berlarut-larut sakitnya.
Biasanya kalau mulai terasa di tenggorokan ada yang tidak beres, tanda-tanda
terserang flu, konsumsi madu bisa mengurangi rasa sakit di tenggorokan saya.
Dan kalaupun masih berlanjut flu, tidak akan disertai radang atau demam. Tapi
Qodarulloh rupanya sakit kemarin sedikit beda, esoknya di hari kedua sakit
semakin parah disertai batuk berdahak dan hilangnya suara. Setiap berusaha
bicara tenggorokan rasanya seperti disilet-silet, sakit dan perih. Begitu juga
waktu batuk, tenggorokan berasa robek. Karena sedang menyusui saya tidak bisa
sembarangan minum obat. Entah kenapa waktu itu saya tiba-tiba ingin membereskan
botol habbats yang ada di atas almari anak saya, hendak saya masukkan ke dalam
kardusnya untuk disimpan. Botol sudah masuk dalam kardusnya tapi ada yang
menggajal di dalam sehingga tidak bisa tertutup, rupanya kertas aturan pakai
yang tergencet sampai menggumpal di dasar kardus. Iseng-iseng saya baca secarik
kertas yang sudah lecek itu, rupanya habbats bisa untuk meredakan batuk dengan
cara diminum. Ok, nice!! Iseng-iseng berhadiah pikir saya, kalaupun tidak
sembuh toh tidak akan berbahaya buat si kecil. Sekitar pukul 7-8an pagi saya
minum 5 tetes, dan selanjutnya 5 tetes lagi pukul 9-10 pagi. Menjelang dzuhur
Alhamdulillah suara sudah kembali, batuk berkurang dan tenggorokan jaaaauh
lebih nyaman. Bahkan saya sudah bisa ke warung sebelah belanja keperluan dapur,
dengan suara ngebass saya hehe. Saya lanjutkan minum sampai 2 hari ke depan
sampai suara benar-benar pulih dan indra pengecap saya kembali normal,
selanjutnya pemulihan saya serahkan ke imunitas tubuh saya+habbats kapsul.
Jujur rasa habbats oil di lidah saya berasa seperti minyak rem xixixi
Kesempatan ke-3 saya
membuktikan khasiat habbat masih di bulan Ramadhan. Kelingking tangan kanan si
Sulung digigit tikus waktu tidur. Sepertinya kurang bersih cuci tangannya
sehabis makan bakso waktu sebelum tidur. Lukanya hanya seujung ballpoint, ada 2
titik tapi rupanya dalem. Darah yang keluar juga tidak tanggung-tanggung, kaos
dalam yang dikenakannya basah kuyup terkena darah. Seluruh kelingking juga
bengkak. Karena peristiwa itu terjadi jam 2.30 pagi, mau tidak mau yang bisa saya
lakukan hanya memberikan pertolongan pertama sekenanya. Luka saya cuci bersih
dengan air mengalir dan sabun, setelah itu saya siram degan revanol dan saya
perban. Setelah sahur saya baru teringat habbat oil bisa untuk luka, akhirnya
saya tetes habbats oil di luar perban sampai sekiranya bisa masuk ke dalam.
Pagi saya cek bengkaknya sudah kempes, urung ke dokter, tapi tetap saya
observasi if in case demam, harus langsung ke dokter/RS. Perban tetap
saya ganti tiap pagi, siang, sore dan menjelang tidur. Di hari ke-2 luka sudah
mulai kering dan perban saya ganti dengan plester karena penampakan perban di
tangan terlihat seram. Hari ke-3 luka sudah kering, cuma tinggal nunggu lepas
bekas lukanya. Tidak ada infeksi atau abses berkelanjutan.
Kesempatan ke-4 tetep
dengan si Sulung. Saya kurang perhatian dia ada alergi terhadap apa. Kadang dia
mengeluh gatal di belakang lututnya, pass di lipatannya. Kadang juga muncul di
lipatan sikunya. Ada ruam dan mrintis kasar seperti biang keringat. Sepertinya
sangat gatal. Kalau sudah seperti itu dia garuk sampai lecet kulitnya,
kasihan.. beberapa kali saya obati dengan minyak tawon dan cream anti
ruam juga, hanya hilang-pergi, tidak benar-benar sembuh. Kembali iseng-iseng
saya oles dengan minyak habbat, sekitar 2 hari tiap sehabis mandi. Treatment
itu saya lakukan menjelang idul fitri, dan alhamdulillah sekarang sudah sebulan
berlalu, belum kambuh lagi, semoga memang sudah benar-benar sembuh. Tapi
barusan saya cek bekas luka kemarin-kemarin masih terlihat menghitam, Okeh..
next project, coba aplikasi ke bekas luka, bisa nggak si habbats oil membantu
regenerasi kulit dan mencerahkan bekas luka :D
Kesempatan ke-5 masih
dengan si Sulung, Aisyah Beauty Saputro , 2 tahun 8 bulan. Baru 4 hari lalu dia
sembuh dari sakit. Tidak tau kenapa dia tiba-tiba mual-mual, muntah dan hilang
nafsu makan dari pertengahan minggu lalu. Selama 3 hari saya obati dengan obat
anti mual dari dokter, tapi tidak ada perubahan. Mual hanya hilang beberapa jam
setelah konsumsi obat saja, tapi setelah itu datang lagi dan tidak ada
kemajuan. Februari lalu dia pernah sakit serupa, tapi disertai panas dan diare.
Kata dokter mungkin ada infeksi virus di pencernaannya. Baru sekali itu saya
menyerah dengan antibiotik. Dari lahir sampai umur 2 tahun lebih saya belum
pernah berani memberikan antibiotik, walaupun itu diresepkan oleh dokter. Tapi
waktu itu sudah seminggu lebih dan tidak kunjung membaik, jadi yah Bismillah
saja. Untuk yang ini sakitnya tidak disertai deman/diare, tapi bibirnya
pecah-pecah, tanda panas dalam. Diagnosa ngawurisasi saya pribadi “mungkin
lambungnya sariawan”. Sabtu malam akhirnya saya nekat, Bismillah.. kata Nabi,
habbat adalah obat macam-macam penyakit. Entah anak saya sakit apa, saya nggak
butuh nama jenis penyakitnya, yang jelas masuk dalam kategori macam-macam
penyakit. Yang saya yakini cuma satu, tidak akan celaka orang yang percaya dan
manut-nurut dengan Nabi. Saya minumi Aisy dengan 3 tetes habbats oil, 3x
sehari. Rencana kami, Senin pagi kalau tidak kunjung sembuh mungkin akan kami
bawa ke dokter. Minggu malam dia sudah mulai mau makan dan sudah tidak
“hoak-hoek”. Senin pagi dia sudah minta makan sendiri, tidak perlu ditawari
apalagi dipaksa-paksa. Subhanallaaah.. walhamdulillaaah..
Sidoarjo, 28 Agustus 2014
-icha-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar