Sekitar tujuh tahun merantau ke ibu kota lanjut ke pulau
Dewata, akhirnya pada tahun 2012 saya kembali ke kampung halaman, Surabaya, dan
sekarang sudah bersama suami dan anak. Banyak sekali cerita-cerita seru yang
bergulir dari mulut saya mengenai kehidupan saya jaman muda bersama
teman-teman, dan cerita ini berawal dari kerinduan untuk mengulang romantisme
masa muda. Jaman masih kuliah dulu suka pergi rame-rame kongkow ke luar kota
demi untuk ‘kebersamaan’, memenuhi hasrat ‘mbolang’ atau hanya sekedar mencari
makan murah dengan porsi gajah.
Jadilah pagii itu, setelah beberapa bulan tinggal di
Surabaya, suami mengajak saya ‘napak tilas’ ke kota sebelah, dia penasaran
dengan ayam bakar legendaris yang saya ceritakan. Letaknya tidak jauh, hanya
1-2 jam perjalanan. Perjalanan ini terhitung sangat mendadak, kami pergi
beberapa menit setelah muncul ide ke sana di kepala suami saya. Tanpa buka peta
atau tanya apa-apa lagi saya yang didapuk menjadi peta berjalan, menunjukkan
jalan kepada suami yang menjadi leader dalam misi ini. Kami berangkat dengan
bermotor.
Di awal perjalanan, saya minta suami mengarahkan stang
motornya lurus saja ke arah barat, waktu itu suami sudah protes “Gak salah ini
Mi? Bukannya ke selatan ya?”. Saya yang merasa lebih tahu, diingatkan seperti
itu jadi tidak terima. “Ini yang pernah kesana Umi apa Abi sih?”. Demi tidak
memperkeruh masalah akhirnya suami menurut saja. Beberapa kilometer dari rumah,
setelah melewati rumah-rumah sepanjang perjalanan, saya mulai bingung, kenapa
jalanan ini berasa tidak match dengan ingatan saya akan perjalanan ke warung
ayam bakar itu ya? Saya mulai bimbang, beberapa kali suami tanya arah. “ini
kemana mi, lurus lagi?”. Mau saran ke suami agar tanya orang, ah kok gengsi.
Saya usir jauh-jauh rasa ragu itu, alah paling cuma gara-gara lama tidak lewat
sini, banyak bangunan baru jadi pangling. “Iya, terus aja Bi”.
Hujan lebat akhirnya memaksa kami berteduh di sebuah
warung pinggir jalan. Di sana suami akhirnya bertanya kepada salah seorang
pengendara lain yang juga berteduh disana,
“Pak, kalo dari sini ke warung Ayam bakar XXX masih jauh
gak ya?”
“Masih jauh mas, lho mas nya dari mana?”
“Dari Surabaya pak”
“Lho Mas ya ngapain lewat sini, kalo lewat sini juga
bisa tapi nanti muter jauh, kalo dari Surabaya tadi mas kan tinggal jalan lurus
ke selatan saja”
Bersamaan dengan gemuruh gledeg dan hujan deras, rasanya
seperti terjadi petir juga di dalam kepala saya. Saya ingat-ingat lagi memori
jaman mbolang dulu. Sepertinya ini ingatan saya saling tindih dan saling lilit
di dalam otak. Dengan muka galak, suamipun menyampaikan keputusan final “kita
pulang!”. Hari sudah siang, hujan lebat, dan lagi anak saya masih terhitung
bayi, kasihan kalau meneruskan menuntaskan perjalanan.
Minggu berikutnya kami mencoba untuk menuntaskan rasa penasaran akan ayam
bakar legendaris yang telah gagal di minggu sebelumnya. Kali ini kami sudah
lebih siap, sudah baca banyak referensi, buka aplikasi map online dan sudah
memprintnya. Di handphone kami belum ada aplikasi GPS waktu itu. Begitu masuk
kota si warung ayam bakar, kami sangat rajin menepi, bertanya kepada
orang-orang, apakah arah kami benar. Hampir tiap 5 menit perjalanan kami
menepi, jalan menuju kesana banyak bangunan baru, dan berkelak kelok, tiap
beberapa kilometer ada pertigaan atau perempatan.
Alhamdulillah kami sampai dengan selamat. Rasa penasaran
itu terbayarkan lunas!!
Coba minggu kemarin saya tidak sok tahu dan mau sedikit
bertanya kepada tetangga atau telepon teman sebelum berangkat, kami tidak perlu
menahan penasaran lebih lama lagi. Kalau mau bertanya , nggak akan sesat di
jalan kaan..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar