Rabu, 03 Februari 2016

Perjuangan Demi Ayam Bakar


Sekitar tujuh tahun merantau ke ibu kota lanjut ke pulau Dewata, akhirnya pada tahun 2012 saya kembali ke kampung halaman, Surabaya, dan sekarang sudah bersama suami dan anak. Banyak sekali cerita-cerita seru yang bergulir dari mulut saya mengenai kehidupan saya jaman muda bersama teman-teman, dan cerita ini berawal dari kerinduan untuk mengulang romantisme masa muda. Jaman masih kuliah dulu suka pergi rame-rame kongkow ke luar kota demi untuk ‘kebersamaan’, memenuhi hasrat ‘mbolang’ atau hanya sekedar mencari makan murah dengan porsi gajah. 

Jadilah pagii itu, setelah beberapa bulan tinggal di Surabaya, suami mengajak saya ‘napak tilas’ ke kota sebelah, dia penasaran dengan ayam bakar legendaris yang saya ceritakan. Letaknya tidak jauh, hanya 1-2 jam perjalanan. Perjalanan ini terhitung sangat mendadak, kami pergi beberapa menit setelah muncul ide ke sana di kepala suami saya. Tanpa buka peta atau tanya apa-apa lagi saya yang didapuk menjadi peta berjalan, menunjukkan jalan kepada suami yang menjadi leader dalam misi ini. Kami berangkat dengan bermotor. 

Di awal perjalanan, saya minta suami mengarahkan stang motornya lurus saja ke arah barat, waktu itu suami sudah protes “Gak salah ini Mi? Bukannya ke selatan ya?”. Saya yang merasa lebih tahu, diingatkan seperti itu jadi tidak terima. “Ini yang pernah kesana Umi apa Abi sih?”. Demi tidak memperkeruh masalah akhirnya suami menurut saja. Beberapa kilometer dari rumah, setelah melewati rumah-rumah sepanjang perjalanan, saya mulai bingung, kenapa jalanan ini berasa tidak match dengan ingatan saya akan perjalanan ke warung ayam bakar itu ya? Saya mulai bimbang, beberapa kali suami tanya arah. “ini kemana mi, lurus lagi?”. Mau saran ke suami agar tanya orang, ah kok gengsi. Saya usir jauh-jauh rasa ragu itu, alah paling cuma gara-gara lama tidak lewat sini, banyak bangunan baru jadi pangling. “Iya, terus aja Bi”.

Hujan lebat akhirnya memaksa kami berteduh di sebuah warung pinggir jalan. Di sana suami akhirnya bertanya kepada salah seorang pengendara lain yang juga berteduh disana,
“Pak, kalo dari sini ke warung Ayam bakar XXX masih jauh gak ya?”
“Masih jauh mas, lho mas nya dari mana?”
“Dari Surabaya pak”
“Lho Mas ya ngapain lewat sini, kalo lewat sini juga bisa tapi nanti muter jauh, kalo dari Surabaya tadi mas kan tinggal jalan lurus ke selatan saja”

Bersamaan dengan gemuruh gledeg dan hujan deras, rasanya seperti terjadi petir juga di dalam kepala saya. Saya ingat-ingat lagi memori jaman mbolang dulu. Sepertinya ini ingatan saya saling tindih dan saling lilit di dalam otak. Dengan muka galak, suamipun menyampaikan keputusan final “kita pulang!”. Hari sudah siang, hujan lebat, dan lagi anak saya masih terhitung bayi, kasihan kalau meneruskan menuntaskan perjalanan. 

Minggu berikutnya kami mencoba  untuk menuntaskan rasa penasaran akan ayam bakar legendaris yang telah gagal di minggu sebelumnya. Kali ini kami sudah lebih siap, sudah baca banyak referensi, buka aplikasi map online dan sudah memprintnya. Di handphone kami belum ada aplikasi GPS waktu itu. Begitu masuk kota si warung ayam bakar, kami sangat rajin menepi, bertanya kepada orang-orang, apakah arah kami benar. Hampir tiap 5 menit perjalanan kami menepi, jalan menuju kesana banyak bangunan baru, dan berkelak kelok, tiap beberapa kilometer ada pertigaan atau perempatan. 

Alhamdulillah kami sampai dengan selamat. Rasa penasaran itu terbayarkan lunas!!
Coba minggu kemarin saya tidak sok tahu dan mau sedikit bertanya kepada tetangga atau telepon teman sebelum berangkat, kami tidak perlu menahan penasaran lebih lama lagi. Kalau mau bertanya , nggak akan sesat di jalan kaan..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar