![]() |
| https://easternhousewife.blogspot.com/ |
Judul : Pulang
Penulis : Tere Liye
Editor : Triana Rahmawati
Penerbit : Republika
Tebal Buku : iv + 400 halaman
Kota Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : September 2015
Harga : Rp. 59.000 (http://tbodelisa.blogspot.com/)
_______________
Tentang Penulis:
Novel ini ditulis oleh Tere Liye, nampaknya Tere Liye tidak ingin dirinya terlalu terkenal. Data-data tentang dirinya tidak banyak diketahui orang, hanya sebatas informasi lahir di tanggal 21 Mei 1979, punya sapaan Darwis, dan telah berkeluarga dengan dikaruniai seorang putra. Tere Liye sendiri hanya nama pena yang diambil dari bahasa India yang berarti Untuk-Mu. Walau tidak banyak yang diketahui orang tentang bang Darwis ini, hasil karya Tere Liye sudah banyak dikenal di masyarakat, total karya yang sudah terpublish ada 23 judul novel. Diantaranya yang sedang dan telah saya baca adalah Hafalan Sholat Delisha, Eliana, Ayahku (bukan) Seorang Pembohong, Sunset Bersama Rosie, Rindu, Kau Aku dan Sepucuk Angpau Merah, Bidadari-Bidadari Surga, dan Pulang. Hampir semua novelnya berpredikat best seller, bahkan beberapa sudah diangkat ke layar lebar. Pemilihan bahasa dan istilah yang mudah dicerna pembaca awam, serta alur cerita yang bergelombang laksana ombak lautan membuat pembaca betah berlama-lama bermesra ria bersama karya-karya Tere Liye.
_______________
Sinopsis Novel:
Pokok cerita dari novel ini berkisah tentang keluarga Tong sebagai pelaku Shadow Economy dengan puncak konflik pertikaian dengan keluarga shadow economy lain dari Macau serta pengkhianatan oleh anggota 'keluarga' sendiri. Kita mungkin lebih akrab dengan sebutan Dunia hitam. Penyelundupan, casino, uang lepas jangkar di pelabuhan, narkoba, jual-beli senjata ilegal, perdagangan situs-situs sejarah, bahkan penjualan organ manusia pun bisa dilakukan oleh pelaku shadow economy.
Tokoh utama adalah Bujang. Bujang anak Samad, seorang mantan tukang pukul, cucu dari perewa atau biasa disebut bandit. Sedang ibunya Midah, adalah cucu dari Tuanku Imam, seorang ulama syahid di kampung kelahiran mereka berdua. Di jaman penjajahan, Tuanku Imam mengajak para perewa bersatu mengusir penjajah, kenyataan itu yang akhirnya membuat dua kubu masyarakat yang beda tabiat itu hidup berdampingan, membuka kesempatan anak-cucu mereka bertemu satu sama lain.
Samad kecil sebenarnya sudah menghindari dunia yang digeluti ayahnya yang perewa, tiap haripun belajar agama pada Tuanku Imam. Namun kehidupannya jungkir balik 180 derajat ketika lamarannya kepada Midah ditolak mentah-mentah, alasannya karena dia anak perewa. Selanjutnya Samad menghilang dari kampung, dan menjadi kepala tukang pukul Tauke di kota propinsi. Tauke adalah kepala keluarga Tong, dengan kekuasaan utamanya ada di pelabuhan kota propinsi. Selama 15 tahun dia mengabdi di sana, namun akhirnya dia meminta pensiun. Sebelumnya, keluaga Tong diserang, Samad sebagai kepala tukang pukul saat itu sudah mati-matian nekat menerobos api untuk menyelamatkan ayah Tauke. Namun takdir berkata lain, ayah-saudara-istri-dan anak Tauke hangus terbakar dalam tragedi itu, dan kaki Samad menjadi pincang. Setelah pensiun, Samad kembali ke kampung halaman, dan melamar Midah untuk kedua kalinya. Wali Midah merestui namun tidak dengan para tetua kampung. Hal ini membuat Samad dan Midah terusir dari kampung halaman setelah pernikahan mereka, dan tinggal di Talang, dalam rimba Sumatera. Cerita cinta Samad-Midah ini tercecer di beberapa bab, dari awal sampai akhir.
Samad diperkenankan pensiun dengan memberi janji kepada Tauke kalau kelak anaknya lelaki, maka anaknya akan kembali kepada Tauke. Maka di umur 15, Bujang akhirnya dijemput Tauke dari rumahnya di rimba Sumatera.
Tauke datang dengan "alibi" berburu babi hutan yang sudah merusak sawah-ladang penduduk di Talang. Sekali lagi, itu hanya alibi. Hal ini baru disibak di bab-bab akhir. Dalam perburuan itu Bujang menyelamatkan Tauke dari serangan babi hutan terbesar di ujung perburuan, sejak saat itu seakan satu dari lima emosi dasarnya sebagai manusia menghilang, dia tidak lagi mengenal rasa takut.
Singkat cerita Bujang pun akhirnya ikut Tauke ke kota propinsi. Selain karena ingin melihat dunia luar, dia tak ingin lagi melihat tangis mamaknya. Peristiwa pahit masa lalu dan kebencian terhadap Tuanku Imam dan para tetua kampung membuat Samad benci dengan segala yang berhubungan dengan Tuanku Imam. Bahkan ia akan memukul Bujang tanpa ampun setiap kali mendapati anaknya sedang belajar dengan mamaknya, terlebih jika pelajaran itu berhubungan ajaran Tuanku Imam. Tiap kali itu juga mamaknya hanya bisa menangis melihatnya.
Mamak Bujang sungguh tahu akan jadi apa anaknya di kota propinsi, sehingga ketika Bujang pergi ia pun tak sanggup melepasnya dengan lambaian tangan, dia hanya bisa tersungkur menangis diatas sajadah. Hanya satu pesan mamaknya untuk Bujang, jangan pernah minum tuak dan makan daging babi/anjing, agar kelak ketika sudah hitam seluruh hatinya, masih menyisakan titik putih yang akan memanggilnya kembali "PULANG".
![]() |
| http://www.republikapenerbit.com/ |




