Tidak seperti awal kemunculannya di penghujung abad
ke-19, handphone (HP) kebanyakan
hanya digunakan oleh mereka yang membutuhkan kecepatan berkomunikasi jarak jauh,
dan bisa dikatakan teknologi ini hanya diperuntukkan oleh orang dewasa saja.
Selanjutnya di awal abad ke-20 fungsinya mulai bergeser, bahkan semakin ke
belakang ada puluhan bahkan ratusan fungsi yang bisa digantikan sekaligus oleh
HP, bukan hanya sekedar fungsi telepon, mencatat, gaming, atau urusan hitung-menghitung saja. Dengan bantuan aplikasi
yang bisa diunduh dengan sangat mudah, ada ribuan aplikasi yang ditawarkan oleh
HP generasi terbaru. Dan ini membuat HP tak hanya menjadi kebutuhan bagi orang
dewasa saja, remaja, bahkan toodler (batita)
pun sudah banyak yang merasa ‘mati gaya’ bila jauh dari gadget satu ini.
Bagi kita yang telah dewasa, tentunya kita bisa
memanfaatkan perkembangan teknologi ini dengan bijak. Namun tidak demikian
dengan pengguna HP dengan rentang usia batita sampai dengan remaja. Mereka
tidak bisa memilih dan menilai sendiri aplikasi mana yang baik untuk mereka.
Banyak diantara anak-anak yang ‘kecolongan’ melihat konten-konten yang tidak
sesuai dengan umur mereka, atau bahkan akhirnya terperosok menjadi konsumen
pornografi. Selanjutnya hal ini akan menjadi boomerang bagi seluruh aspek
masyarakat, bukan hanya diri sendiri dan keluarga si anak.




