Selasa, 05 Januari 2016

Apa kamu (termasuk) orang bodoh ?

Sumber foto google

Sabda Rasulullah SWT mengenai kriteria muslim yang cerdas dan muslim yang lemah/ bodoh:

"Orang yang cerdas adalah orang yang mengoreksi dirinya dan mengamalkan / mempersiapkan memperbanyak amalan untuk setelah mati, sedangkan orang yang lemah / bodoh adalah orang yang selalu mengikutkan dirinya pada hawa nafsunya dan berangan - angan atas Allah untuk mendapat rahmatNya"(HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, Baihaqi)
Perhatian saya tertuju pada kalimat,
"..orang yang lemah / bodoh adalah orang yang selalu mengikutkan dirinya pada hawa nafsunya dan berangan - angan atas Allah untuk mendapat rahmatNya". 

Betapa ini sangat mirip dengan keseharian saya, atau mungkin juga sama dengan Anda??

Kita seeering sekali mengucapkan kata 'semoga' yang entah itu sebenarnya sedang serius berdoa atau hanya diucapkan sambil lalu.. Yang entah kita sadar atau tidak, 'semoga' itu adalah ungkapan dari pengharapan.

Simpelnya seperti
'semoga pekerjaan di kantor hari ini tidak banyak kendala, jadi bisa pulang ontime' ,
'semoga gaji bulan ini tidak ada potongan lagi' ,
'semoga kita sekeluarga sehat terus yah Pa..'
Dsb.

Namun, sebelum pengharapan itu terucap, apakah pernah kita berpikir "apakah kita sudah berhak mendapatkan pengabulan atas pengharapan itu??". Sudah setaat apa kita kepada Sang Maha Rohman-Rohim??

Kebanyakan dari kita justru hanya berpegang pada dalil "Berdoalah kalian kepadaKu, niscaya Aku akan mengabulkannya". Kita hanya mengikuti dalil-dalil yang 'enak-enak' dan menguntungkan kita saja. Kita tidak pernah memperhatikan syarat dan ketentuan bagaimana seharusnya sifat-sifat seorang hamba.

Sebagai bahan muhasabah, introspeksi diri, saya coba ambil satu contoh, momen besar yang baru saja kita lalui, pergantian tahun baru masehi. Begitu banyak doa dan harapan yang diucapkan di malam pergantian tahun. Namun sayangnya hanya sedikit dari kita yang mengucapkannya dengan posisi tersungkur diatas sajadah, atau sekedar menunduk penuh tawadhu'. Kebanyakan, harapan itu diucapkan di sela-sela tiupan terompet, atau bunyi ledakan kembang api, atau di sela-sela gelak tawa, di sela-sela cipika-cipiki dengan lawan jenis yang bukan mahram atau bahkan di sela-sela tenggakan minuman haram.. Dan lantas dengan lantangnya meneriakkan "semoga tahun ini kita semua diberi kesehatan dan rizki yang melimpah". Astaghfirullohal'adziim.

Hamba macam apa kita ini??
Hanya demi mengajukan permohonan kenaikan gaji saja kita harus mempunyai penilaian kinerja yang baik selama bertahun-tahun oleh departemen HRD. Ketika dipanggil atasan pun kita segera datang, kalau sedang kurang rapi pun sampai disempat-sempatkan mampir ke restroom, demi penilaian positif atasan. Bicara pun tidak sembarangan, kata-kata yang digunakan dipiliiiih benar-benar, dengan hati-hati.

Kalau memang tidak cukup, marilah kita menunduk, rendahkan diri, memohon ampun, kiranya Allah SWT berkenan memaafkan segala dosa dan kesalahan kita. Janganlah kita menjadi hamba yang tidak tahu diri. Kita saja semisal order makanan di restoran cepat saji, ketika datang hanya mengenakan baju daster dan sendal jepit. Lantas ketika order kita mengordersemua item yang ada di papan menu, namun setelahnya kita tidak memberikan perhatian penuh kepada pramusaji, malah asyik bercanda dengan teman atau sibuk sendiri menyusun kartu atau malah menyanyi-nyanyi sendiri. Yang  terjadi setelahnya mungkin adalah pramusaji bertanya "seriyus nggak ini mbak ordernya?". Atau yang lebih ekstrim mungkin menganggap orderan kita hanya candaan, dan segera menyuruh kita minggir tanpa bertanya apa-apa lagi. Itu baru pramusaji, hanya karyawan biasa, apalagi malaikat atau Allah sendiri, dzat yang selama ini memberi kita hidup dan kehidupan. "Seriyus apa gak sih ini mintanya?". Ini hanya analogi saja, saya tidak bermaksud menyamakan sifat Allah Sang Maha Pencipta dengan kita manusia yang hanya hamba. Manusia gampang tersinggungan, sedang Allah tentusaja tidak sama dengan kita. Wallohu a'lam bisshowab..

"" Mari kita hitung-hitung lagi, apakah 'nilai' kita sudah cukup untuk meminta itu semua?? Kalau perlu hitunglah setiap hari, tidak perlulah menunggu sampai akhir tahun, tidak ada jaminan umur kita masih ada sampai esok lusa, apalagi akhir tahun. Belum lagi kita cenderung pelupa dengan dosa sendiri, cenderung lebih mudah hapal dosa orang lain.

"" Mari menjadi hamba yang 'cerdas' seperti yang sudah Nabi kita jelaskan. Tidak cukup hanya introspeksi, lalu dilanjut memohon maaf. Sudah selesai?? Tidak.. Inti dari muhasabah/introspeksi sendiri adalah perbaikan diri. Terus mengupayakan perbaikan, perbaikan dan perbaikan. Bukan hanya dalam kata 'besok saya akan menjadi pribadi yang lebih baik daripada hari ini'. Allah butuh amal nyata, butuh perbuatan riil. Bukan hanya janji atau retorika saja.

Jangan menunda nanti apa bisa kita lakukan sekarang. Jangan menunda sampai besok apa yang bis kita perbaiki hari ini.

Semoga Allah senantiasa memberi petunjuk dan kekuatan kepada kita semua, agar dapat selalu berbenah diri. Amin

*notes*
Muhasabah berasal dari akar kata hasiba yahsabu hisab, yang artinya secara etimologis adalah melakukan perhitungan. Dalam terminologi syari, makna definisi pengertian muhasabah adalah sebuah upaya evaluasi diri terhadap kebaikan dan keburukan dalam semua aspeknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar