![]() |
| Sumber foto google |
Sabda Rasulullah SWT
mengenai kriteria muslim yang cerdas dan muslim yang lemah/ bodoh:
"Orang yang cerdas adalah orang yang mengoreksi dirinya dan mengamalkan / mempersiapkan memperbanyak amalan untuk setelah mati, sedangkan orang yang lemah / bodoh adalah orang yang selalu mengikutkan dirinya pada hawa nafsunya dan berangan - angan atas Allah untuk mendapat rahmatNya"(HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, Baihaqi)
Perhatian saya tertuju
pada kalimat,
"..orang yang lemah
/ bodoh adalah orang yang selalu mengikutkan dirinya pada hawa nafsunya dan
berangan - angan atas Allah untuk mendapat rahmatNya".
Betapa ini sangat mirip
dengan keseharian saya, atau mungkin juga sama dengan Anda??
Kita seeering sekali
mengucapkan kata 'semoga' yang entah itu sebenarnya sedang serius berdoa atau
hanya diucapkan sambil lalu.. Yang entah kita sadar atau tidak, 'semoga' itu
adalah ungkapan dari pengharapan.
Simpelnya seperti
'semoga pekerjaan di kantor hari ini tidak banyak
kendala, jadi bisa pulang ontime' ,
'semoga gaji bulan ini tidak ada potongan lagi' ,
'semoga kita sekeluarga sehat terus yah Pa..'
Dsb.
Namun, sebelum
pengharapan itu terucap, apakah pernah kita berpikir "apakah kita sudah
berhak mendapatkan pengabulan atas pengharapan itu??". Sudah setaat apa
kita kepada Sang Maha Rohman-Rohim??
Kebanyakan dari kita justru hanya berpegang pada dalil "Berdoalah kalian kepadaKu, niscaya Aku akan mengabulkannya". Kita hanya mengikuti dalil-dalil yang 'enak-enak' dan menguntungkan kita saja. Kita tidak pernah memperhatikan syarat dan ketentuan bagaimana seharusnya sifat-sifat seorang hamba.
Sebagai bahan muhasabah,
introspeksi diri, saya coba ambil satu contoh, momen besar yang baru saja kita
lalui, pergantian tahun baru masehi. Begitu banyak doa dan harapan yang
diucapkan di malam pergantian tahun. Namun sayangnya hanya sedikit dari kita
yang mengucapkannya dengan posisi tersungkur diatas sajadah, atau sekedar
menunduk penuh tawadhu'. Kebanyakan, harapan itu diucapkan di sela-sela tiupan
terompet, atau bunyi ledakan kembang api, atau di sela-sela gelak tawa, di
sela-sela cipika-cipiki dengan lawan jenis yang bukan mahram atau bahkan di
sela-sela tenggakan minuman haram.. Dan lantas dengan lantangnya meneriakkan
"semoga tahun ini kita semua diberi kesehatan dan rizki yang melimpah".
Astaghfirullohal'adziim.
Hamba macam apa kita
ini??
Hanya demi mengajukan
permohonan kenaikan gaji saja kita harus mempunyai penilaian kinerja yang baik
selama bertahun-tahun oleh departemen HRD. Ketika dipanggil atasan pun kita
segera datang, kalau sedang kurang rapi pun sampai disempat-sempatkan mampir ke
restroom, demi penilaian positif atasan. Bicara pun tidak sembarangan,
kata-kata yang digunakan dipiliiiih benar-benar, dengan hati-hati.
Kalau memang tidak
cukup, marilah kita menunduk, rendahkan diri, memohon ampun, kiranya Allah SWT
berkenan memaafkan segala dosa dan kesalahan kita. Janganlah kita menjadi hamba
yang tidak tahu diri. Kita saja semisal order makanan di restoran cepat saji,
ketika datang hanya mengenakan baju daster dan sendal jepit. Lantas ketika
order kita mengordersemua item yang ada di papan menu, namun setelahnya kita
tidak memberikan perhatian penuh kepada pramusaji, malah asyik bercanda dengan
teman atau sibuk sendiri menyusun kartu atau malah menyanyi-nyanyi sendiri.
Yang terjadi setelahnya mungkin adalah
pramusaji bertanya "seriyus nggak ini mbak ordernya?". Atau yang
lebih ekstrim mungkin menganggap orderan kita hanya candaan, dan segera
menyuruh kita minggir tanpa bertanya apa-apa lagi. Itu baru pramusaji, hanya
karyawan biasa, apalagi malaikat atau Allah sendiri, dzat yang selama ini
memberi kita hidup dan kehidupan. "Seriyus apa gak sih ini
mintanya?". Ini hanya analogi saja, saya tidak bermaksud menyamakan sifat
Allah Sang Maha Pencipta dengan kita manusia yang hanya hamba. Manusia gampang
tersinggungan, sedang Allah tentusaja tidak sama dengan kita. Wallohu a'lam
bisshowab..
"" Mari kita hitung-hitung lagi, apakah 'nilai' kita sudah cukup untuk meminta itu semua?? Kalau perlu hitunglah setiap hari, tidak perlulah menunggu sampai akhir tahun, tidak ada jaminan umur kita masih ada sampai esok lusa, apalagi akhir tahun. Belum lagi kita cenderung pelupa dengan dosa sendiri, cenderung lebih mudah hapal dosa orang lain.
"" Mari
menjadi hamba yang 'cerdas' seperti yang sudah Nabi kita jelaskan. Tidak cukup
hanya introspeksi, lalu dilanjut memohon maaf. Sudah selesai?? Tidak.. Inti
dari muhasabah/introspeksi sendiri adalah perbaikan diri. Terus mengupayakan
perbaikan, perbaikan dan perbaikan. Bukan hanya dalam kata 'besok saya akan
menjadi pribadi yang lebih baik daripada hari ini'. Allah butuh amal nyata,
butuh perbuatan riil. Bukan hanya janji atau retorika saja.
Jangan menunda nanti apa
bisa kita lakukan sekarang. Jangan menunda sampai besok apa yang bis kita
perbaiki hari ini.
Semoga Allah senantiasa
memberi petunjuk dan kekuatan kepada kita semua, agar dapat selalu berbenah
diri. Amin
*notes*
Muhasabah berasal dari akar kata hasiba yahsabu hisab, yang artinya secara
etimologis adalah melakukan perhitungan. Dalam terminologi syari, makna definisi
pengertian muhasabah adalah sebuah upaya evaluasi diri terhadap kebaikan dan
keburukan dalam semua aspeknya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar