Kamis, 14 Januari 2016

Kisah si Santriwati Magang

Cerita ini sudah hampir 20 tahun terlewat, namun masih saja membuat bibir mengulum senyum saat mengingatnya.

Liburan kenaikan kelas sudah tiba, saya baru naik ke kelas 2 SMP. Demi mengisi liburan yang bermanfaat, ada teman sepantaran di rumah berencana mengikuti pesantren kilat selama sebulan di salah satu Pondok pesantren di kota Mojokerto. Tidak jauh dari Surabaya, hanya berjarak 1-2 jam an dari rumah. Bapak saya mendengar rencana itu dan akhirnya dengan bujuk rayu Bapak saya bersedia ikut juga.

Hari-hari di pesantren berjalan cukup menyenangkan, karena sebagian besar santriwati disana adalah anak-anak usia sekolah juga seperti saya. Kegiatanpun tidak terlalu penuh, karena memang ini sedang masa liburan.

Tibalah pada suatu jum'at siang, Bu Nyai minta dibuatkan parutan belimbing. Sepertinya untuk membantu menurunkan tensi darah beliau. Pohon belimbingnya ada di halaman pondok, jadi tinggal 'ngunduh' saja pakai galah. Dengan senang hati saya menawarkan diri kepada 2 santri yang lain untuk membantu memetiknya. Ndilalah, setelah ditengok-tengok buah belimbingnya hanya berbuah sedikit, dan itupun hanya ada di pucuk-pucuk. Galah untuk 'nyunggek' sudah tidak sampai. Masjid pondok yang sekaligus menjadi masjid kampung baru saja mulai takbirotul ikhrom sholat jumat. Masjid itu hanya seratusan meter jaraknya dari halaman pondok. Jalan kampung depan pondok sepi-piiii. Tidak tahu kena angin apa, mungkin kena bisikan jin bonek (Tuuuh.. jadi nyalahin jin kaaaan.. Maap bpk/ibu jin), saya pun langsung naik pagar, lanjut naik memanjat pohon belimbing, padahal jelas-jelas saya memakai sarung. "Mumpung gak ada yang lihat mbak", bela saya. Sudah manjat 2 meteran masih tidak sampai juga tangan menggapai buah, kepalang tanggung, saya naik lagi sampai sekenanya. Dan lupa, sholat jumat itu hanya 2 rakaat saja. Baru dapat beberapa buah, sudah terdengar dua-kali "assalamu'alaikum warohmatulloh.." dari corong masjid tanda selesai sholat. Dan paniklah saya..

Untuk ukuran anak perempuan, saya memang cukup lihai memanjat pohon. Turun dengan tenang mungkin bisa lancar, tapi turun pohon dengan panik dan bersarung bukanlah urusan gampang, ditambah lagi dari atas pohon sudah terlihat jamaah anak-anak berhamburan keluar masjid. Makin grogi saja. Sarung beberapa kali 'nyantol' ranting pohon. Tinggal 2 meter an lagi sampai tanah, dan jamaah anak-anak sudah tinggal beberapa puluh meter lagi akan sampai depan pondok. Tidak bisa mikir panjang lagi, begitu kaki menginjak pagar tembok yang setinggi 1,5 meter, saya buru-buru turun 'mbrosot' ke bawah. Alhamdulillah sarung tidak pakai acara 'kecanthol' lagi. Cuma di kulit bagian tulang kering kanan saja yang jadi punya bekas luka 5-6 centi an. Sampai sekarang tiap kali melihatnya selalu ingin tertawa.

Hikmah yang bisa saya petik (selain berhasil metik belimbing, hehe), semua perbuatan itu harus diperhitungkan sebelumnya, jangan asal nekat. Harus memikirkan adab juga. Santri itu seharusnya manusia yang lebih beradab. Lebih punya malu, karena malu adalah bagian dari iman.
Beginilah kisah santri-putri-magang-'ndugal'. Jangan ditiru yaaaa..
_____________
Wassalamu 'alaikum warohmatullohi wabarokatuh

Selamat beribadah hari Jum'at.. Semoga keselamatan dan kedamaian selalu dilimpahkan oleh Allah SWT untuk segala pelosok negeri. Amiin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar