Cerita ini sudah hampir 20 tahun terlewat, namun masih
saja membuat bibir mengulum senyum saat mengingatnya.
Liburan kenaikan kelas sudah tiba, saya baru naik ke
kelas 2 SMP. Demi mengisi liburan yang bermanfaat, ada teman sepantaran di
rumah berencana mengikuti pesantren kilat selama sebulan di salah satu Pondok
pesantren di kota Mojokerto. Tidak jauh dari Surabaya, hanya berjarak 1-2 jam an
dari rumah. Bapak saya mendengar rencana itu dan akhirnya dengan bujuk rayu
Bapak saya bersedia ikut juga.
Hari-hari di pesantren berjalan cukup menyenangkan,
karena sebagian besar santriwati disana adalah anak-anak usia sekolah juga
seperti saya. Kegiatanpun tidak terlalu penuh, karena memang ini sedang masa
liburan.
Tibalah pada suatu jum'at siang, Bu Nyai minta dibuatkan
parutan belimbing. Sepertinya untuk membantu menurunkan tensi darah beliau.
Pohon belimbingnya ada di halaman pondok, jadi tinggal 'ngunduh' saja pakai
galah. Dengan senang hati saya menawarkan diri kepada 2 santri yang lain untuk
membantu memetiknya. Ndilalah, setelah ditengok-tengok buah belimbingnya hanya
berbuah sedikit, dan itupun hanya ada di pucuk-pucuk. Galah untuk 'nyunggek' sudah
tidak sampai. Masjid pondok yang sekaligus menjadi masjid kampung baru saja
mulai takbirotul ikhrom sholat jumat. Masjid itu hanya seratusan meter jaraknya
dari halaman pondok. Jalan kampung depan pondok sepi-piiii. Tidak tahu kena
angin apa, mungkin kena bisikan jin bonek (Tuuuh.. jadi nyalahin jin kaaaan..
Maap bpk/ibu jin), saya pun langsung naik pagar, lanjut naik memanjat pohon
belimbing, padahal jelas-jelas saya memakai sarung. "Mumpung gak ada yang
lihat mbak", bela saya. Sudah manjat 2 meteran masih tidak sampai juga
tangan menggapai buah, kepalang tanggung, saya naik lagi sampai sekenanya. Dan
lupa, sholat jumat itu hanya 2 rakaat saja. Baru dapat beberapa buah, sudah
terdengar dua-kali "assalamu'alaikum warohmatulloh.." dari corong masjid
tanda selesai sholat. Dan paniklah saya..
Untuk ukuran anak perempuan, saya memang cukup lihai
memanjat pohon. Turun dengan tenang mungkin bisa lancar, tapi turun pohon
dengan panik dan bersarung bukanlah urusan gampang, ditambah lagi dari atas
pohon sudah terlihat jamaah anak-anak berhamburan keluar masjid. Makin grogi
saja. Sarung beberapa kali 'nyantol' ranting pohon. Tinggal 2 meter an lagi
sampai tanah, dan jamaah anak-anak sudah tinggal beberapa puluh meter lagi akan
sampai depan pondok. Tidak bisa mikir panjang lagi, begitu kaki menginjak pagar
tembok yang setinggi 1,5 meter, saya buru-buru turun 'mbrosot' ke bawah.
Alhamdulillah sarung tidak pakai acara 'kecanthol' lagi. Cuma di kulit bagian
tulang kering kanan saja yang jadi punya bekas luka 5-6 centi an. Sampai
sekarang tiap kali melihatnya selalu ingin tertawa.
Hikmah yang bisa saya petik (selain berhasil metik
belimbing, hehe), semua perbuatan itu harus diperhitungkan sebelumnya, jangan
asal nekat. Harus memikirkan adab juga. Santri itu seharusnya manusia yang
lebih beradab. Lebih punya malu, karena malu adalah bagian dari iman.
Beginilah kisah santri-putri-magang-'ndugal'. Jangan
ditiru yaaaa..
_____________
Wassalamu 'alaikum warohmatullohi wabarokatuh
Selamat beribadah hari Jum'at.. Semoga keselamatan dan
kedamaian selalu dilimpahkan oleh Allah SWT untuk segala pelosok negeri. Amiin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar