Kamis, 07 Januari 2016

Semalam Aku Dilecehkan

Diam-diam masuk kebun binatang dari pagar belakang, hanya beberapa saat sebelum kebun binatang tutup. Ternyata belum lama aku didalam aku mendapati diri ku hanya sendiri di dalam area itu, sepi.. para pengunjung sudah pergi, sudah pulang semua. Bahkan pintu pagar EXIT pun sudah digembok.
Kudapati tas teman seperjuanganku dipojokan sebuah bangku taman, aku dan dia sesama penyusup, hanya saja dia berhasil melompati pagar tinggi itu beberapa menit lebih dulu daripada aku. Tas nya ada, tapi mana orangnya? kupanggil-panggil namanya "Reeeg..Reeggg..". Mustahil untuk tidak bisa melihat wujudnya dalam kandang yg tak terlalu luas ini, mengingat ukuran tubuhnya yg tinggi-besar. Kecuali.. kalau dia memang sudah pergi juga.

Sedikit panik. Untung ada petugas patroli kebun binatang yang melihatku terkunci sendirian di dalam area kandang itu. Aku baru sadar rupanya aku berada di dalam kandang binatang buas, jenisnya harimau putih. Sang petugas berseru kepadaku untuk kluar. Begitu rantai bergembok itu dibuka, segera saja aku kluar. ngerii..
Rupanya binatang-binatang disini akan diajak jalan-jalan keluar dari kandang oleh masing-masing "baby sitter" nya begitu jam berkunjung kebun binatang usai. Ada petugas khusus yg bertugas sebagai baby sitter, menjalin ikatan emosional dengan binatang-binatang itu. Satu petugas untuk tiap ekornya. Aneh juga, meski buas mereka akan bersikap manis dengan baby sitter mereka.

Begitu aku melangkah keluar dan melenggang santai, tak disangka, ternyata si harimau putih telah berada hanya beberapa meter di belakang ku dengan tali yang terkalung di leher dan ujung yang lain terikat di tangan babi sitternya. Aku baru tersadar setelah mendengar auman tidak ramah nya yang begitu dekat dengan teliga. Melonjak dan lari terbirit-birit serong beberapa derajat ke kiri, jantung ku berpacu. sambil berlari, syukur kupanjatkan, jarak rentang tali itu jauh lebih pendek daripada jarak ku dengan baby sitternya. Ku pikir aku sudah lari jauh namun ternyata hanya beberapa meter saja, kepanikan membuat langkahku lebih pendek, jauh lebih pendek daripada berjalan santai. 


Bahkan beberapa kali sempat membuatku tersandung, kaki kanan tersandung kaki kiri dan sebaliknya. Tapi harimau itu masih terus berontak, tak terima masih bernafsu mengejarku.
Masih brlari dan belum sempat aku bernafas normal, tiba-tiba dibelakangku ada 3 ekor fauna buas lainnya, tak kalah nafsunya ikut mengejarku. jarak mereka lebih pendek hanya bebepara puluh centi saja, dan begitu asing bentuknya. Bentuknya menyerupai remis raksasa yang mempunyai gigi tajam seperti hiu di pinggiran bibir cangkangnya. Tingginya hanya sebetisku, tidak berkaki dan hanya melompat-lompat seperti bola basket kempes saat bergerak. Terdengar bungi "ceplak! ceplak!" tiap kali dia mengatupkan cangkang nya. Rentang tali kekangnya yg terbatas lagi-lagi menyelamatkan aku. Aku berlari lagi sekuat tenaga serong beberapa derajat ke kanan, berharap dia kesulitan untuk merubah arah larinya.

Seorang baby sitter berteriak "Awaass!!", kusempatkan untuk menoleh ke arah datang suara di belakangku. Sesuatu berwarna putih bergaris-garis hitam berkelebat cepat di sampingku, Masya Allah! beruntung aku sempat menghindar dan tidak tertabrak. Harimau itu lepas. 

Aku berputar-putar, kehilangan arah, dan hanya dalam hitungan detik harimau itu telah kembali dari arah berlawanan menyambar badan ku. Aku berguling-guling di tanah tertindih badannya. Astaghfirullahal adzim..astaghfirullahal 'adzim.. hanya itu yg bisa terucap dari mulutku.

Dia mengendus-endus tlapak tanganku. Seakan-akan bisa mendengar suara batin harimau itu aku mendengar dia berkata "Sepertinya enak kalau makan mulai dari tangannya"
Mencoba mengulur waktu, ku coba menyarankan "Tangan ku keras, gak ada dagingnya, kurang enak", Aku pikir kalau tangan dilepaskan mungkin aku bisa mencolok matanya dan kmudian melarikan diri.

Dia berpindah ke telapak kaki sekarang, kudengar lagi "Kalau dari sini lumayan nih"
Sekali lagi aku mencoba membujuknya "makin keras tulangnya kalau di kaki", aku yakin tidak akan bisa lari dengan kaki terluka.

Dan akhirnya dia menemukan bagian yang cukup empuk dari tubuhku, kepalanya sudah bersandar diatas perutku. Dia hanya menggeram, tak mengatakan apa-apa. Hanya sholawat nabi yang terucap dari mulutku, "Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad.. Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad.." . Khas ku sekali, tiap kali aku merasa terancam atau ketakutan, sholawat nabi lah yang bisa menenangkanku. Untuk keadaan yang lebih santai biasanya ku lafadzkan sambil bersenandung, namun sekarang tidak mampu rasanya aku mengingat nada apapun. Bahkan jantungku pun berdetak tanpa irama, kacau sekacau-kacaunya.

Dijilatnya perutku sekali, terasa lembut tapi dingin, membuat lutut ku lemas. Bacaan sholawat makin cepat kulafadzkan.

Dijilatnya yang kedua kali, semakin lemas aku hilang harapan. Planning mencolok matanya dan melarikan sdiri sekuat tenaga pun rasanya menguap begitu saja.
Dan akhirnya setelah jilatan yang ketiga, ku dengar dia bicara "Ah, pait ternyata rasanya"
Aku terbangun, merasa lega sekaligus terhina.

lega ternyata itu semua hanya mimpi, alhamdulillah.. dan terhina karena aku telah dilecehkan seekor harimau. Aseemmm..

Ternyata aku tidak semanis yang dikatakan beberapa temanku dalam gombalannya.
Entah si harimau yang terlalu tinggi seleranya atau memang temanku yang terlalu payah tingkat kejujurannya.


Semoga si harimau gak diabetes. Amiin..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar