Kamis, 14 Januari 2016

Belajar dari anak-anak

Anak-anak sejatinya adalah mahluk yang polos, namun sangat suka dengan apresiasi orang lain, terlebih lagi dari orang yang dianggapnya mempunyai sifat superior. Anak-anak sering sekali menunjukan kepada orang tuanya kalu dia bisa ini, bisa itu. Saat itu mereka butuh apresiasi, butuh pujian dan pengakuan dari kita yang dia anggap punya kemampuan lebih. Mereka hanya butuh mendengar, "Waah.. Adek pintar!". Selanjutnya, kalau ada anak lain yang bilang bisa ini-itu juga dan kita bilang "Wah, kamu juga pintar ya" maka mereka akan sama-sama bahagia.

Namun tidak jarang juga saya temui mereka sedang menunjukkan kepada kita ketika mempunyai sesuatu yang baru. Misal sepeda, tas, mainan atau bahkan baju. Bahkan anak saya ketika dibelikan celana dalam baru bergambar princess oleh neneknya pun tidak segan-segan membuka rok nya untuk menunjukkan gambar princess itu kepada saya. 

Sifat yang ini bukan sedang butuh apresiasi, yang ini adalah sifat pamer. Mereka cuma mau menunjukkan "Aku punya, kamu enggak". Ketika ada anak lain misalnya ikut-ikut pamer "aku juga punya, gambar princess" , kemungkinan yang terjadi selanjutnya adalah dua anak itu saling berebut, gambar princess di celana dalam siapa yang paling bagus.
Dan rupanya jiwa anak-anak banyak yang masih terjebak dalam tubuh tubuh orang dewasa.

Butuh apresiasi dan sedang pamer memang beda-beda tipis.
Cuma kita sendiri yang tahu persis.
Ungkapan "Alhamdulillah" atau "Puji Tuhan" dalam perkataan tidak membuat niat pamer kita berubah menjadi syukur yang sebenar-benarnya secara otomatis.
Dan pamer, bisa membuat catatan pahalamu terbakar habis.

*pelajaranmanis*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar