Anak-anak sejatinya adalah mahluk yang polos, namun
sangat suka dengan apresiasi orang lain, terlebih lagi dari orang yang
dianggapnya mempunyai sifat superior. Anak-anak sering sekali menunjukan kepada
orang tuanya kalu dia bisa ini, bisa itu. Saat itu mereka butuh apresiasi,
butuh pujian dan pengakuan dari kita yang dia anggap punya kemampuan lebih.
Mereka hanya butuh mendengar, "Waah.. Adek pintar!". Selanjutnya,
kalau ada anak lain yang bilang bisa ini-itu juga dan kita bilang "Wah,
kamu juga pintar ya" maka mereka akan sama-sama bahagia.
Namun tidak jarang juga saya temui mereka sedang
menunjukkan kepada kita ketika mempunyai sesuatu yang baru. Misal sepeda, tas,
mainan atau bahkan baju. Bahkan anak saya ketika dibelikan celana dalam baru
bergambar princess oleh neneknya pun tidak segan-segan membuka rok nya untuk
menunjukkan gambar princess itu kepada saya.
Sifat yang ini bukan sedang butuh
apresiasi, yang ini adalah sifat pamer. Mereka cuma mau menunjukkan "Aku punya,
kamu enggak". Ketika ada anak lain misalnya ikut-ikut pamer "aku juga
punya, gambar princess" , kemungkinan yang terjadi selanjutnya adalah dua
anak itu saling berebut, gambar princess di celana dalam siapa yang paling
bagus.
Dan rupanya jiwa anak-anak banyak yang masih terjebak
dalam tubuh tubuh orang dewasa.
Butuh apresiasi dan sedang pamer memang beda-beda tipis.
Cuma kita sendiri yang tahu persis.
Ungkapan "Alhamdulillah" atau "Puji
Tuhan" dalam perkataan tidak membuat niat pamer kita berubah menjadi syukur
yang sebenar-benarnya secara otomatis.
Dan pamer, bisa membuat catatan pahalamu terbakar habis.
*pelajaranmanis*

Tidak ada komentar:
Posting Komentar