Rabu, 03 Februari 2016

Kesasar Ke Kantor, Di Tahun ke-2 Kerja



Kalian pernah kesasar kan? Mungkin kebanyakan dari kita pernah mengalami hal serupa, entah karena benar-benar tak mengenal daerah, atau karena sudah lama sekali tidak melewati daerah itu sehingga jadi “pangling” dengan perubahannya, sehingga akhirnya kesasarlah.

Membahas cerita tersesat bin nyasar binti lost. Saya ingat dulu waktu masih tinggal di ibukota, beberapa kali saya pernah kesasar. Mulai dari pertama kali berangkat kerja pun saya sudah punya cerita kesasar. Tapi cerita kali ini agak antik, terjadi pada waktu hampir 2 tahun saya berkantor disana.

Tinggal di daerah Kemayoran dan berkantor di kawasan industri Jababeka-Cikarang membuat saya seringkali berjibaku dengan angkot dan asap knalpot. Sering, tapi tidak setiap hari. Karena jarak tempuh yang serasa membuat saya 'tua di jalan', saya putuskan menyewa kamar kos di dekat kantor untuk saya tinggali setiap senin malam sampai kamis malam. Tidak pasti, kadang kalau sedang tidak ingin di kosan, mau hari selasa atau rabu pun saya akan pulang ke Kemayoran. Yang pasti, setiap dari rumah saya berangkat sebelum jam 6 pagi dan sampai kantor mepet jam 8 atau kadang lebih, karena jalanan macet. Dan pagi itu saya berangkat dari rumah, dan baru sampai di kantor hampir jam 10.

Pagi itu gerimis mengguyur kawasan ibu kota dan sekitarnya, saya berangkat ke kantor dari rumah. Seperti biasa saya sudah keluar rumah dari jam 6 kurang. Hujan sudah turun dari semalam. Perjalanan Kemayoran-Cawang berjalan lancar, tidak terlalu macet. Target saya naik Elf nomer 59 dari Cawang-Jababeka via tol langsung. Angkutan ini tidak pernah sepi penumpang, yang sering saya harus berebut dengan puluhan calon penumpang yang lain. Kapasitas normal Elf yang untuk kapasitas 15 orang bisa muat 26 orang untuk angkutan nomer 59 ini.

Tapi sepertinya saya sedang apes, tol arah Cikarang-Cawang macet total. Armada Elf no 59 tertahan di tol dan tidak ada yang sampai di pool Cawang. Sudah jam 7 lebih tapi tidak ada tanda-tanda kedatangannya. Akhirnya saya naik bis apapun yang mengarah ke bekasi, target saya naik Elf no 45 jurusan Metropolitan Mall (MM)-Cikarang Barat. Saya pernah pulang dengan menumpang mobil teman, dan melewati MM, hanya hanya ingat itu di Bekasi, tapi tak pasti Bekasi Timur atau barat. Bis pertama yang datang adalah Mayasari Bhakti no P9A. Sekilas saya lihat jurusan Bekasi, tanpa pikir-pikir lagi maka naiklah saya dengan PeDe-nya. Dan bis pun langsung berangkat. Agak ragu, tapi akhirnya saya bertanya juga pada kenek bis, “Bang, ini ntar turunnya di Bekasi kan?”.
 “iya neng, turun di terminal Bekasi”.
“Bisa turun di MM gak?”.
“wah kagak bisa neng, turunnya di terminal, Bekasi Timur”

Perjuangan Demi Ayam Bakar


Sekitar tujuh tahun merantau ke ibu kota lanjut ke pulau Dewata, akhirnya pada tahun 2012 saya kembali ke kampung halaman, Surabaya, dan sekarang sudah bersama suami dan anak. Banyak sekali cerita-cerita seru yang bergulir dari mulut saya mengenai kehidupan saya jaman muda bersama teman-teman, dan cerita ini berawal dari kerinduan untuk mengulang romantisme masa muda. Jaman masih kuliah dulu suka pergi rame-rame kongkow ke luar kota demi untuk ‘kebersamaan’, memenuhi hasrat ‘mbolang’ atau hanya sekedar mencari makan murah dengan porsi gajah. 

Jadilah pagii itu, setelah beberapa bulan tinggal di Surabaya, suami mengajak saya ‘napak tilas’ ke kota sebelah, dia penasaran dengan ayam bakar legendaris yang saya ceritakan. Letaknya tidak jauh, hanya 1-2 jam perjalanan. Perjalanan ini terhitung sangat mendadak, kami pergi beberapa menit setelah muncul ide ke sana di kepala suami saya. Tanpa buka peta atau tanya apa-apa lagi saya yang didapuk menjadi peta berjalan, menunjukkan jalan kepada suami yang menjadi leader dalam misi ini. Kami berangkat dengan bermotor. 

Di awal perjalanan, saya minta suami mengarahkan stang motornya lurus saja ke arah barat, waktu itu suami sudah protes “Gak salah ini Mi? Bukannya ke selatan ya?”. Saya yang merasa lebih tahu, diingatkan seperti itu jadi tidak terima. “Ini yang pernah kesana Umi apa Abi sih?”. Demi tidak memperkeruh masalah akhirnya suami menurut saja. Beberapa kilometer dari rumah, setelah melewati rumah-rumah sepanjang perjalanan, saya mulai bingung, kenapa jalanan ini berasa tidak match dengan ingatan saya akan perjalanan ke warung ayam bakar itu ya? Saya mulai bimbang, beberapa kali suami tanya arah. “ini kemana mi, lurus lagi?”. Mau saran ke suami agar tanya orang, ah kok gengsi. Saya usir jauh-jauh rasa ragu itu, alah paling cuma gara-gara lama tidak lewat sini, banyak bangunan baru jadi pangling. “Iya, terus aja Bi”.

Selasa, 19 Januari 2016

Menggiring Masa Depan Anak Bersama Acer Liquid Z320

Tidak seperti awal kemunculannya di penghujung abad ke-19, handphone (HP) kebanyakan hanya digunakan oleh mereka yang membutuhkan kecepatan berkomunikasi jarak jauh, dan bisa dikatakan teknologi ini hanya diperuntukkan oleh orang dewasa saja. Selanjutnya di awal abad ke-20 fungsinya mulai bergeser, bahkan semakin ke belakang ada puluhan bahkan ratusan fungsi yang bisa digantikan sekaligus oleh HP, bukan hanya sekedar fungsi telepon, mencatat, gaming, atau urusan hitung-menghitung saja. Dengan bantuan aplikasi yang bisa diunduh dengan sangat mudah, ada ribuan aplikasi yang ditawarkan oleh HP generasi terbaru. Dan ini membuat HP tak hanya menjadi kebutuhan bagi orang dewasa saja, remaja, bahkan toodler (batita) pun sudah banyak yang merasa ‘mati gaya’ bila jauh dari gadget satu ini.

Bagi kita yang telah dewasa, tentunya kita bisa memanfaatkan perkembangan teknologi ini dengan bijak. Namun tidak demikian dengan pengguna HP dengan rentang usia batita sampai dengan remaja. Mereka tidak bisa memilih dan menilai sendiri aplikasi mana yang baik untuk mereka. Banyak diantara anak-anak yang ‘kecolongan’ melihat konten-konten yang tidak sesuai dengan umur mereka, atau bahkan akhirnya terperosok menjadi konsumen pornografi. Selanjutnya hal ini akan menjadi boomerang bagi seluruh aspek masyarakat, bukan hanya diri sendiri dan keluarga si anak.

Kamis, 14 Januari 2016

Kisah si Santriwati Magang

Cerita ini sudah hampir 20 tahun terlewat, namun masih saja membuat bibir mengulum senyum saat mengingatnya.

Liburan kenaikan kelas sudah tiba, saya baru naik ke kelas 2 SMP. Demi mengisi liburan yang bermanfaat, ada teman sepantaran di rumah berencana mengikuti pesantren kilat selama sebulan di salah satu Pondok pesantren di kota Mojokerto. Tidak jauh dari Surabaya, hanya berjarak 1-2 jam an dari rumah. Bapak saya mendengar rencana itu dan akhirnya dengan bujuk rayu Bapak saya bersedia ikut juga.

Hari-hari di pesantren berjalan cukup menyenangkan, karena sebagian besar santriwati disana adalah anak-anak usia sekolah juga seperti saya. Kegiatanpun tidak terlalu penuh, karena memang ini sedang masa liburan.

Tibalah pada suatu jum'at siang, Bu Nyai minta dibuatkan parutan belimbing. Sepertinya untuk membantu menurunkan tensi darah beliau. Pohon belimbingnya ada di halaman pondok, jadi tinggal 'ngunduh' saja pakai galah. Dengan senang hati saya menawarkan diri kepada 2 santri yang lain untuk membantu memetiknya. Ndilalah, setelah ditengok-tengok buah belimbingnya hanya berbuah sedikit, dan itupun hanya ada di pucuk-pucuk. Galah untuk 'nyunggek' sudah tidak sampai. Masjid pondok yang sekaligus menjadi masjid kampung baru saja mulai takbirotul ikhrom sholat jumat. Masjid itu hanya seratusan meter jaraknya dari halaman pondok. Jalan kampung depan pondok sepi-piiii. Tidak tahu kena angin apa, mungkin kena bisikan jin bonek (Tuuuh.. jadi nyalahin jin kaaaan.. Maap bpk/ibu jin), saya pun langsung naik pagar, lanjut naik memanjat pohon belimbing, padahal jelas-jelas saya memakai sarung. "Mumpung gak ada yang lihat mbak", bela saya. Sudah manjat 2 meteran masih tidak sampai juga tangan menggapai buah, kepalang tanggung, saya naik lagi sampai sekenanya. Dan lupa, sholat jumat itu hanya 2 rakaat saja. Baru dapat beberapa buah, sudah terdengar dua-kali "assalamu'alaikum warohmatulloh.." dari corong masjid tanda selesai sholat. Dan paniklah saya..

Belajar dari anak-anak

Anak-anak sejatinya adalah mahluk yang polos, namun sangat suka dengan apresiasi orang lain, terlebih lagi dari orang yang dianggapnya mempunyai sifat superior. Anak-anak sering sekali menunjukan kepada orang tuanya kalu dia bisa ini, bisa itu. Saat itu mereka butuh apresiasi, butuh pujian dan pengakuan dari kita yang dia anggap punya kemampuan lebih. Mereka hanya butuh mendengar, "Waah.. Adek pintar!". Selanjutnya, kalau ada anak lain yang bilang bisa ini-itu juga dan kita bilang "Wah, kamu juga pintar ya" maka mereka akan sama-sama bahagia.

Namun tidak jarang juga saya temui mereka sedang menunjukkan kepada kita ketika mempunyai sesuatu yang baru. Misal sepeda, tas, mainan atau bahkan baju. Bahkan anak saya ketika dibelikan celana dalam baru bergambar princess oleh neneknya pun tidak segan-segan membuka rok nya untuk menunjukkan gambar princess itu kepada saya. 

Terima kasih REPUBLIKA untuk hadiahnya (Daftar Pemenang Resensi pilhan Novel "PULANG")


https://twitter.com/bukurepublika/status/684217575077593089

Kiriman hadiah bukunya udah sampe. Dan, pas buka amplop Waaaaaaaaah.. Senengnyaaaa!! Kemarin ngarep banget paket bukunya ada AAC2, daaan ternyata ada beneran. Matur nuwun Republika, matur nuwun Gusti Allaaaah. Ini bukti bahwa ucapan "Semoga" yang penuh harap pasti didengar oleh Allah. #semakinyaqin





Jumat, 08 Januari 2016

Berenang Dengan Hiu Di Karimun Jawa



Kangen lauuuuut T_T || iya betul itu hiu, ditangkarkan, @karimunjawa, pic th 2009. Dan saya pernah nyemplung di situ walau jantung deg-deg an terus dari turun sampai naik lagi bukan perkara takut jadi cemilan saja, tapi jujur, saya tidak bisa berenang sama sekali. Nekat masuk, pakai pelampung, bisa mengapung, tapi hanya mengapung, urusan maju atau mundur harus menggapai-gapai dan menarik paksa kaos teman yang bisa tergapai. Sempat juga tidak bisa menyeimbangkan badan,pokoknya memalukan

Kamis, 07 Januari 2016

Semalam Aku Dilecehkan

Diam-diam masuk kebun binatang dari pagar belakang, hanya beberapa saat sebelum kebun binatang tutup. Ternyata belum lama aku didalam aku mendapati diri ku hanya sendiri di dalam area itu, sepi.. para pengunjung sudah pergi, sudah pulang semua. Bahkan pintu pagar EXIT pun sudah digembok.
Kudapati tas teman seperjuanganku dipojokan sebuah bangku taman, aku dan dia sesama penyusup, hanya saja dia berhasil melompati pagar tinggi itu beberapa menit lebih dulu daripada aku. Tas nya ada, tapi mana orangnya? kupanggil-panggil namanya "Reeeg..Reeggg..". Mustahil untuk tidak bisa melihat wujudnya dalam kandang yg tak terlalu luas ini, mengingat ukuran tubuhnya yg tinggi-besar. Kecuali.. kalau dia memang sudah pergi juga.

Sedikit panik. Untung ada petugas patroli kebun binatang yang melihatku terkunci sendirian di dalam area kandang itu. Aku baru sadar rupanya aku berada di dalam kandang binatang buas, jenisnya harimau putih. Sang petugas berseru kepadaku untuk kluar. Begitu rantai bergembok itu dibuka, segera saja aku kluar. ngerii..
Rupanya binatang-binatang disini akan diajak jalan-jalan keluar dari kandang oleh masing-masing "baby sitter" nya begitu jam berkunjung kebun binatang usai. Ada petugas khusus yg bertugas sebagai baby sitter, menjalin ikatan emosional dengan binatang-binatang itu. Satu petugas untuk tiap ekornya. Aneh juga, meski buas mereka akan bersikap manis dengan baby sitter mereka.

Begitu aku melangkah keluar dan melenggang santai, tak disangka, ternyata si harimau putih telah berada hanya beberapa meter di belakang ku dengan tali yang terkalung di leher dan ujung yang lain terikat di tangan babi sitternya. Aku baru tersadar setelah mendengar auman tidak ramah nya yang begitu dekat dengan teliga. Melonjak dan lari terbirit-birit serong beberapa derajat ke kiri, jantung ku berpacu. sambil berlari, syukur kupanjatkan, jarak rentang tali itu jauh lebih pendek daripada jarak ku dengan baby sitternya. Ku pikir aku sudah lari jauh namun ternyata hanya beberapa meter saja, kepanikan membuat langkahku lebih pendek, jauh lebih pendek daripada berjalan santai. 

Selasa, 05 Januari 2016

Apa kamu (termasuk) orang bodoh ?

Sumber foto google

Sabda Rasulullah SWT mengenai kriteria muslim yang cerdas dan muslim yang lemah/ bodoh:

"Orang yang cerdas adalah orang yang mengoreksi dirinya dan mengamalkan / mempersiapkan memperbanyak amalan untuk setelah mati, sedangkan orang yang lemah / bodoh adalah orang yang selalu mengikutkan dirinya pada hawa nafsunya dan berangan - angan atas Allah untuk mendapat rahmatNya"(HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, Baihaqi)
Perhatian saya tertuju pada kalimat,
"..orang yang lemah / bodoh adalah orang yang selalu mengikutkan dirinya pada hawa nafsunya dan berangan - angan atas Allah untuk mendapat rahmatNya". 

Betapa ini sangat mirip dengan keseharian saya, atau mungkin juga sama dengan Anda??

Selasa, 29 Desember 2015

Menjadi orang indonesia yang tidak kebule-bulean

Sometimes I checking all my newsfeed just for killing the time. yes! Aaalll the newsfeed. like now, after doing homework til over night, I found my sleepy-time already gone!! Just left 2 hours more to meet up with the sun And b/c of that, now I knew little shocking fact.. Many friends of mine wrote their status either reply the comments in english eventhough they didn't use that language in their daily activity. Just for rediculous reason, they want to be seen as smart people, fluently in english, and 'gaul' also.

But sorry to say, I have to call it 'kemlinggis'.

Actually it's not anyone problem, and so do I. but c'mon guys, even you're tourist guide or maybe english teacher, meet bule everyday, you shouldn't talk with local citizen or another teacher using english language right?

I think we should starting to proud more w/ our Bahasa. Stop using alay's one, seriously it's make me got haedache to read them.. Eeerrghh..

Kalau bisaaa..ini kalau bisa yaa., selepas bule-bule itu pulang ke kampung masing-masing, mereka sudah paham sedikit Bahasa kita. Bule 'nyetatus' di FB dengan Bahasa, waaah.. Bayangkan! Bisa-bisa Sebentar saja Bahasa Indonesia juga bisa jadi international language. Keren kan!!


                               Selamat menjalankan ibadah sholat subuh         

Mainan Made In China

--Made in china-- Ini mainan, bungkus kemasan dengan isinya kenapa tidak ada mirip-miripnya sama sekali ya tapi ya memang ada tulisan di bawah "SPECIFICATIONS , COLORS & CONTENTS MAY VARY FROM ILLUSTRATION". Tapi kenapa saya masih saja shock ketika tahu isinya beda dengan gambar kemasannya :D



pacman emotikon

Minggu, 13 Desember 2015

Sebuah Resensi Novel "PULANG": Perjalanan Panjang Kehidupan Memeluk Segala Luka

https://easternhousewife.blogspot.com/
DATA NOVEL:
Judul : Pulang
Penulis : Tere Liye
Editor : Triana Rahmawati
Penerbit : Republika
Tebal Buku : iv + 400 halaman
Kota Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : September 2015
Harga : Rp. 59.000 (http://tbodelisa.blogspot.com/) 


_______________

Tentang Penulis:

Novel ini ditulis oleh Tere Liye, nampaknya Tere Liye tidak ingin dirinya terlalu terkenal. Data-data tentang dirinya tidak banyak diketahui orang, hanya sebatas informasi lahir di tanggal 21 Mei 1979, punya sapaan Darwis, dan telah berkeluarga dengan dikaruniai seorang putra. Tere Liye sendiri hanya nama pena yang diambil dari bahasa India yang berarti Untuk-Mu. Walau tidak banyak yang diketahui orang tentang bang Darwis ini, hasil karya Tere Liye sudah banyak dikenal di masyarakat, total karya yang sudah terpublish ada 23 judul novel. Diantaranya yang sedang dan telah saya baca adalah Hafalan Sholat Delisha, Eliana, Ayahku (bukan) Seorang Pembohong, Sunset Bersama Rosie, Rindu, Kau Aku dan Sepucuk Angpau Merah, Bidadari-Bidadari Surga, dan Pulang. Hampir semua novelnya berpredikat best seller, bahkan beberapa sudah diangkat ke layar lebar. Pemilihan bahasa dan istilah yang mudah dicerna pembaca awam, serta alur cerita yang bergelombang laksana ombak lautan membuat pembaca betah berlama-lama bermesra ria bersama karya-karya Tere Liye.

_______________
Sinopsis Novel:

Pokok cerita dari novel ini berkisah tentang keluarga Tong sebagai pelaku Shadow Economy dengan puncak konflik pertikaian dengan keluarga shadow economy lain dari Macau serta pengkhianatan oleh anggota 'keluarga' sendiri. Kita mungkin lebih akrab dengan sebutan Dunia hitam. Penyelundupan, casino, uang lepas jangkar di pelabuhan, narkoba, jual-beli senjata ilegal, perdagangan situs-situs sejarah, bahkan penjualan organ manusia pun bisa dilakukan oleh pelaku shadow economy.

Tokoh utama adalah Bujang. Bujang anak Samad, seorang mantan tukang pukul, cucu dari perewa atau biasa disebut bandit. Sedang ibunya Midah, adalah cucu dari Tuanku Imam, seorang ulama syahid di kampung kelahiran mereka berdua. Di jaman penjajahan, Tuanku Imam mengajak para perewa bersatu mengusir penjajah, kenyataan itu yang akhirnya membuat dua kubu masyarakat yang beda tabiat itu hidup berdampingan, membuka kesempatan anak-cucu mereka bertemu satu sama lain.

Samad kecil sebenarnya sudah menghindari dunia yang digeluti ayahnya yang perewa, tiap haripun belajar agama pada Tuanku Imam. Namun kehidupannya jungkir balik 180 derajat ketika lamarannya kepada Midah ditolak mentah-mentah, alasannya karena dia  anak perewa. Selanjutnya Samad menghilang dari kampung, dan menjadi kepala tukang pukul Tauke di kota propinsi. Tauke adalah kepala keluarga Tong, dengan kekuasaan utamanya ada di pelabuhan kota propinsi. Selama 15 tahun dia mengabdi di sana, namun akhirnya dia meminta pensiun. Sebelumnya, keluaga Tong diserang, Samad sebagai kepala tukang pukul saat itu sudah mati-matian nekat menerobos api untuk menyelamatkan ayah Tauke. Namun takdir berkata lain, ayah-saudara-istri-dan anak Tauke hangus terbakar dalam tragedi itu, dan kaki Samad menjadi pincang. Setelah pensiun, Samad kembali ke kampung halaman, dan melamar Midah untuk kedua kalinya. Wali Midah merestui namun tidak dengan para tetua kampung. Hal ini membuat Samad dan Midah terusir dari kampung halaman setelah pernikahan mereka, dan tinggal di Talang, dalam rimba Sumatera. Cerita cinta Samad-Midah ini tercecer di beberapa bab, dari awal sampai akhir.

Samad diperkenankan pensiun dengan memberi janji kepada Tauke kalau kelak anaknya lelaki, maka anaknya akan kembali kepada Tauke. Maka di umur 15, Bujang akhirnya dijemput Tauke dari rumahnya di rimba Sumatera.

Tauke datang dengan "alibi" berburu babi hutan yang sudah merusak sawah-ladang penduduk di Talang. Sekali lagi, itu hanya alibi. Hal ini baru disibak di bab-bab akhir. Dalam perburuan itu Bujang menyelamatkan Tauke dari serangan babi hutan terbesar di ujung perburuan, sejak saat itu seakan satu dari lima emosi dasarnya sebagai manusia menghilang, dia tidak lagi mengenal rasa takut.

Singkat cerita Bujang pun akhirnya ikut Tauke ke kota propinsi. Selain karena ingin melihat dunia luar, dia tak ingin lagi melihat tangis mamaknya. Peristiwa pahit masa lalu dan kebencian terhadap Tuanku Imam dan para tetua kampung membuat Samad benci dengan segala yang berhubungan dengan Tuanku Imam. Bahkan ia akan memukul Bujang tanpa ampun setiap kali mendapati anaknya sedang belajar dengan mamaknya, terlebih jika pelajaran itu berhubungan ajaran Tuanku Imam. Tiap kali itu juga mamaknya hanya bisa menangis melihatnya.
Mamak Bujang sungguh tahu akan jadi apa anaknya di kota propinsi, sehingga ketika Bujang pergi ia pun tak sanggup melepasnya dengan lambaian tangan, dia hanya bisa tersungkur menangis diatas sajadah. Hanya satu pesan mamaknya untuk Bujang, jangan pernah minum tuak dan makan daging babi/anjing, agar kelak ketika sudah hitam seluruh hatinya, masih menyisakan titik putih yang akan memanggilnya kembali "PULANG".
http://www.republikapenerbit.com/

Jumat, 04 Desember 2015

Perbaiki Buku Mengaji Yang Rusak

Sebelum Dijahit










Tinggal 2 halaman lagi dah ganti buku, sebenarnya itungannya nanggung kalau 'reparasi' buku qiroati ini. Tapi mau gimana lagi, sudah benar2 tidak bisa ditolong hanya dg lakban.Kalau buku yg sebelumnya bisa tertolong dengan lakban luar-dalam plus disetrika tiap halamannya,yg ini harus diberi hard cover kardus bekas+dijahit, dan setelah ini masih harus disetrika tiap lembarnya & dilapis kertas kado sampulnya, untuk menghilangkan kesan ngeneeess  Buk-bukuuu.. Yg sabar yaa. InsyaAllah manfaat dunia-akhirat

Sesudah dijahit


Pintu Kamar Yang Terkunci


Sudah tiga kali ini kamar terkunci dari dalam, dan ketiga-tiganya membuat huru-hara sedemikian rupa. Pintu itu tidak bisa dibuka dari luar, anak kuncinya entah hilang kemana. Karena lupa mencabut dari kenop pintu, akhirnya anak kunci itu jadi bahan mainan si Aisyah, dan kejadian selanjutnya bisa ditebak "tadi atu ambin, telus mmh.. Atu talok mana yaa.. Mmh.. ". Kalau sudah begini, yang paling bagus adalah mengikhlaskannya, cari opsi jalan keluar yang lain saja. Ini semua demi kesehatan mental kami-kami yang dewasa. Introgasi lebih lanjut hanya akan membuat makan hati sendiri, gemas, emosi jiwa, geregetan campur mengkal tak karuan.
Sepertinya ini problematika umum keluarga dengan anggota salah satu atau salah duanya adalah balita -atau mungkin hanya keluarga kami saja ya, hehe-

Yang pertama, terjadi di suatu siang. Cuma ada saya, dan dua balita usil itu. Waktu kejadian pertama ini saya masih punya kemauan keras untuk menemukan anak kunci yang raib, fokus introgasi. Setelah beberapa lama usaha tanpa hasil, yasudahlah akhirnya diikhlaskan saja. Cari jalan keluar lain, untungnya jendela kamar waktu itu terbuka. Alhamdulillahi 'ala kullihal.. Aisyah bisa saya selipkan masuk kamar lewat jendela. Beres!

Kejadian kedua, di suatu maghrib. Sembari menunggu saya sholat maghrib di kamar belakang, saya minta Aisy mengajak adiknya pindah ke kamar depan. Si kecil Shoviy hobby sekali tengkurap di sajadah, blocking area sujud saya ketika saya sholat, walaupun sebenernya dia sedang menirukan gerakan sujud saya, namun demi alasan kekhusyuan saya mengusir mereka. Entah siapa yang menekan tombol lock di kenop pintu kamar depan (biasanya sih cuma aisyah yang hobby pencet-pencet tombol lock kenop pintu), akhirnya tanpa sadar pintupun sempurna terkunci sewaktu Aisy menutupnya. Belum selesai saya sholat, terdengar suara Shoviy menangis sambil memukul-mukul pintu. Belum melepas mukena, saya langsung meneriaki Aisyah supaya membukakan pintu adiknya. Tidak ada jawaban. Buru-buru saya menuju kamar depan, memutar kenop pintu, terkunci! Berkali-kali saya gedor-gedor pintu sembari memanggil namanya juga tetap tidak ada sahutan dari dalam. Hanya tangisan Shoviy yang belum berhenti. Penasaran, akhirnya saya tengok dari jendela kaca yang mengarah ke car port di depan. Seharian keasyikan bermain, tidak tidur siang dan sore dilanjut mengaji di TPQ rupanya membuat Aisy ngantuk berat maghrib itu. Aisyah tidur pulas di kasur, dan adiknya berdiri di depan pintu sambil menangis. Si sulung ini kalau sudah tertidur begini susah sekali dibangunkannya. Pernah suatu ketika dia tertidur saat saya bonceng, cipratan air es di jidat pun tidak berhasil membuat dia bangun. Istimewa sekali kan??!

Kembali ke kamar yang terkunci, tidak kehabisan akal, saya panggil si kecil dari jendela. "Opi..opiii.. Sini, sini. itu kakak bobok, jambak ya, tarik rambutnya gini yaa..iiiih.. " (Sambil memeragakan gerakan menjambak rambut). Opi pun menurut, didatanginya si Aisyah, berguling ke atas kasur tidur disamping kakaknya, lalu dengan sekencang-kencangnya menjambak rambut yang disampingnya. Di detik ini Opi sudah mereda tangisnya, digantikan Aisy yang terbangun dengan menjerit keras sekali. Saya hapal sekali dengan kejahilan si kecil, seringkali kakaknya terbangun dengan menangis akibat dari kejahilan Opi. Ketika dia bangun tidur dan melihat kakaknya masih tidur, alamat tidak selamatlah si kakak, entah dinaiki, entah dijambak, atau sekedar dicolok-colok kelopak matanya, atau apa sajalah asal kakaknya ikut bangun. Cara ini sedikit sadis, saya akui, tapi bagaimanalah tidak ada cara lain yang lebih jitu dari ini. Maafkan umi ya nak :)

Butuh beberapa menit membujuk Aisy bangun, badmood campur kantuk berat komplit membuat dia tidak mau bangkit dari kasur, walaupun matanya sudah terbuka. Dibujuk-bujuk hendak ditinggal pergi jalan-jalan Umi-Abi pun tak berhasil. Cara sadis berikutnya akhirnya digunakan, tanpa banyak bicara listrik saya padamkan dari meterannya. Seketika berhamburlah dia keluar sambil menangis lebih kencang. Sekali lagi, maaf yaa.. Terpaksa. Kalau terlalu lama negosiasi, takut kamu tertidur lagi :)

Ketiga kalinya, malam ini. Pukul sembilan malam lewat. Hari ini kami bersiap tidur lebih larut dari biasanya, ada undangan pengajian dan baru usai lepas pukul delapan malam. Biasanya lepas pukul delapan rumah kami sudah sepi. Selepas saya sholat isya, memanaskan lauk dan memberi makan anak-anak kucing, akhirnya suami menggiring anak-anak -Aisy&Shoviy- ke kamar. Ternyata pintu kamar Terkunci!! Tidak ada siapa-siapa di dalam, dan jendela kamar sudah dikunci dari sore tadi. Suami langsung emosi. Jalan ke depan, jalan ke belakang, mencoba memutar kenop lagi, jalan ke depan lagi,ke belakang lagi, ngomel lagi ke Aisyah. Saya yang sedang memberi ASI Shoviy sambil berpikir juga ikut kena marah. Apa salahnya kalau saya bisa tetap berpikir sambil kasih ASI, sambil main game di tab?? Wanita itu multitasking bung!

Pernah dihadapkan kasus seperti ini juga dulu, waktu di ibukota, di rumah kakak. Bedanya yang terkunci waktu itu bukan kamar, tapi dapur dengan kompor menyala di dalamnya. Di rumah tidak ada laki-laki, begitu juga di rumah tetangga, kejadiannya pass waktu sholat jumat. Dan hanya saya yang punya postur tubuh yang muat dalam ventilasi sebesar 100x30 cm itu, sekaligus yang beresiko kecil cidera jika harus lompat bebas dari ketinggian 2,5 meter. Jadilah saya naik ke atas lubang ventilasi, memanjat bufet, menjebol kasa nyamuk, naik ke atas dengan badan tertekuk-tekuk dan lompat bebas dari ketinggian dua setengah meter. Yang susah bukan naiknya, tapi memutar badan di atas dan selanjutnya lompat bebas dengan selamat.

Kembali ke kamar yang terkunci, memikirkan kemungkinan untuk mengulang romantisme kejadian lama itu. Berpikir kemungkinan-kemungkinan, dan akhirnya urung, mengingat paku dan gantungan baju di belakang pintu. Alamak.. bukan hanya baju yang bisa robek, bahkan "seragam pramuka" made in Ilahi Robbi juga ini.

Kemungkinan kedua, didodbrak paksa. Badan abi besar, pasti bisa. Tapi akhirnya urung juga, bukan hanya pintu yang terbuka, kemungkinan kayu kusennya juga ikut jebol. Rumah kontrakan ini sudah tinggi tingkat populasi rayapnya. Akhirnya abi yang punya ide lain, memang benar ungkapan dua kepala lebih baik daripada satu kepala. Asal tidak dua muka saja hehe jadi OOT. Idenya, mengait kunci selot jendela dengan gembok yang terulur dengan tali. Lagi-lagi, secara teknis cuma saya yang bisa. Tangan kecil saya bisa masuk ke lubang kecil diatas jendela untuk mengayunkan bandul gembok. Ini seperti memancing boneka dari dalam box kaca, bandul gembok berkali-kali menyerempet kaitan kunci selot, hanya menyerempet. Pukul 10.15 malam akhirnya bandul gembok itu berhenti mem-PHP saya, sempurna mengait, dalam sekali tarik kunci selot itu berhasil terangkat, dan jendelapun terbuka. Seperti kejadian pertama dulu, giliran tugas Aisy masuk menyelip lewat jendela kamar.

Sekedar pengingat buat teman-teman yang mempunyai anak balita dan juga pintu dengan kenop bulat yang ada tombol lock nya. Letakkan kunci cadangan di luar kamar yang letaknya mudah diingat dan mudah dijangkau, tapi tidak dalam jangkauan anak-anak balita. Selamat memetik hikmah :)

Sekali lagi, Alhamdulillahi 'ala kullihal..

Kamis, 26 November 2015

Pohon

Pohon, sejatinya mahluk yang sangat ikhlas memberi manfaat dan tanpa dendam. Tidak bisa melawan atau sekedar membela diri. Terlalu pendiam malahan. Pindah mendekat kawanan sejenisnya pun tak pernah, dia terima saja dengan takdir dia, mau di pinggir jalan atau di bibir jurang. Ikhlas.
Apalagi sampai menyikut manusia yang seenaknya menoreh-norehkan nama kekasihnya pada batangnya. Pernah? Apa pernah kau terjungkal gara-gara pohon yang kau sandari bergeser? Atau dahannya tiba-tiba menggerombol ke arah lain, dan kau tidak bisa meneduh dibawah bayangnya?

Namun kita sebagai manusia dengan tega, semena-mena kepada mereka, bahkan menebang mereka tanpa ampun. Mereka juga mahluk hidup, yang juga ingin hidup dan beribadah kepada Rabb-nya. Bisa tidak kau bayangkan, kira-kira dosa apa yang pernah diperbuat pohon?? Ada??
Jadi kalau disamakan dengan manusia, tingkat kesuciannya lebih dari ulama, mereka setara dengan bayi yang baru lahir sobat!

Sekarang bayangkan, bila kau berani-berani berbuat tak adil atau dzolim kepada bayi, kira-kira nanti ada balasannya tidak? Ada "perhitungannya" tidak? Apa Tuhan akan diam saja? Apa kau juga yakin kalau mereka tidak mengadukan keluhannya kepada Sang Pencipta? Tidak pernah meminta keadilan? Yakin??

Rabu, 25 November 2015

Socmed, yaa ... socmed..


Di siang yang mendung nan gerah.. Membuat saya mati gaya. Hanya menggerak-gerakkan jempol sudah membuat badan berpeluh. Bulak-balik refresh news feed, sudah seperti duduk bengong dipinggir jalan, melihat segala yang berhilir mudik. Baiklah, jadilah saya tulis tulisan cenceremen macam ini, semacam Mini riset tentang fungsi social media bagi masyarakat.

Ada beberapa type fungsi yang umum saya jumpai:

1. Sebagai tempat sampah. Ada yang selalu mengeluh dan mengeluh. Selain mengeluh, isi socmed nya adalah omelan kemarahan yang tak jelas peruntukannya untuk siapa. Sepertinya tidak cukup berani menyebutkan subjek kemarahannya entah karena kalah level atau karena alasan yang lain. Banyak yang mamakai socmed sebagai tempat sampah, tapi adakah yang memulungnya untuk didaur ulang? TPS pun ada maximum loadnya. Hehe hanya tergelitik bertanya.

2. Sebagai ajang gosip. Ada yang selalu meng-share apapun yang dia temui di news feed nya, dengan dalih sharing is caring. Tanpa pikir panjang apalagi sampai cross check ke 2-3 sumber berita lain yang menuliskan topik yang sama. Bahkan ada yang buru-buru men-share sebelum dia rampung membaca artikel itu secara keseluruhan. Tidak masalah bila yang dishare hanya resep masakan atau design architecture. Yang jadi masalah kalau itu memuat suatu berita. Ketika berita yang disebar tidak benar, apa bedanya dengan gosip atau bahkan fitnah? Bahkan ada artikel yang kadang menuliskan ancaman "share artikel ini jika kamu benar-benar sayang mamamu". Secara tidak langsung saya akan difitnah tidak sayang mama ketika ogah mensharenya. Sungguh terlalu!

Hujan Perdana di Waru Sidoarjo 251115

Alhamdulillah.. Hujan turun deres td di waru. Tadi waktu baru turun hujan, umi sama Opi lagi mapan di kamar, Aisyah rusuh sendiri, bingung masukin segala macem barang kesayangannya yang di teras, termasuk 4 ekor kucing. Ni udah tinggal gerimis-gerimis, opi sudah lelap, giliran emaknya cek n ricek kondisi di luar, dan menemukan 4 ekor anak kucing teronggok diantara sepatu+sendal "dindit" nya aisy yang dibelikan embah bapak. Oalah reeek.. rek.. Melase..!!

Kamis, 19 November 2015

Ais-tah (2,5 yo) ituuuuu...

  • Punya pertanyaan beruntun puanjaaang.. kayak uler se kampung baris
“Mi, bitinno dambal (bikino gambar)..  okeh #srekesrekesrek# #lagigambar# .. Mi itu dambal apa?.. gambar sepeda. Tepedana tapa?.. sepedanya ais dong.. Tepedana ais wana apa (warna apa)?.. warna merah sama ijo.. badus ya tepedana.. iya, merah kayak warna bunga ya.. buna apa mi?..bunga mawar.. buna mawanna pana mi? (bunga mawarnya mana mi?)... Errrgrh@&$(%&*&^$*%&  
pertanyaan model ini gak akan berenti kalo bukan umi/abinya yang nyetop.
  • Cadel yang aneh.. M di depan jadi P...
Yang sering kejadian nih, abis magrib abinya pulang , idhik-idhik-idhik.. ais pun menyambut dengan riang “abitu pulaan..abitu pulan.. abinya di padit ya?” . Abinya gak langsung jawab, karena masih mikir. Gak ngerti ini anak sulungnya lagi ngomong apa, padahal sering banget bilang “padit-padit”. Uminya langsung paham, “Abinya di MASJID ya?”

Habbats Oil ??! Apa Hebatnya Coba?? (Sebuah Testimoni)

Habbats Oil ??! Apa Hebatnya Coba?? (Sebuah Testimoni)
29 Agustus 2014 pukul 10:53
Perkenalan pertama saya dengan Habbatussauda Oil (minyak jintan hitam) adalah pada waktu menjelang persalinan anak ke-2 saya, Shoviyah Shine Saputro, April 2014 lalu. Waktu itu bidan pendamping saya merekomendasikan untuk menyiapkan Habbats oil, olive oil (virgin) ,madu dan kurma/nabeez (juss kurma) untuk persiapan home birthing si dedek di rumah.

Sempat bingung, untuk apa habbats oilnya? Kalau olive oil untuk pijat membantu untuk relax, kurma untuk induksi alami sekaligus sumber energi, demikian juga madu. Setahu saya habbat biasanya untuk menjaga kondisi tubuh seperti suplemen vitamin, dan itu pun berupa kapsul untuk diminum. Tapi ya sudahlah saya nurut saja..


Dan penasaran saya terjawab setelah proses kelahiran si kecil telah usai, tepatnya setelah selesai proses jahitan. Rupanya habbats oil digunakan sebagai pengganti obat merah/anti septic. Benar saja, butuh waktu seminggu saja, saya sudah bisa leluasa jalan atau duduk di bawah atau di kursi empuk. Dan tanpa minum obat apapun kecuali habbats kapsul, bahkan suntik vitamin K pun tidak. Alhamdulillah sungguh-sungguh Alhamdulillah.. karena setelah seminggu itu saya harus menjadi ibu rumah tangga tanpa asisten lagi. Di seminggu pertama masih ada ibu mertua yang sengaja datang dari Boyolali untuk menemani.

Mari kita DIAM saja dulu

Tidak ada perihal kebetulan di dunia ini, semuanya atas kehendak Allah, semua sudah diatur dan ditakdirkan oleh-Nya.

Pun ketika sebagian mahluknya menganiaya atas sebagian yang lainnya, merampas haknya atau melukainya secara batin maupun nyata.

Beberapa hari lalu ada sedikit musibah menimpa, perasaan sedih dan marah bercampur semuanya di dada.
Pada saat masih shock, disela-sela itu secara tidak  sengaja saya membaca status seorang teman di contact BB yang menuliskan "Diam adalah doa terdahsyat orang yang teraniaya". Tidak ada perihal kebetulan di dunia ini, semuanya atas kehendak Allah, semua sudah diatur dan ditakdirkan oleh-Nya.

Pada dasarnya, dibolehkan bagi orang yang dizalimi dan dianiaya untuk membela dirinya salah satu bentuknya adalah dengan mendoakan keburukan atas orang yang menzaliminya.

 “Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Nisa’: 148)

Namun...